Percakapan Dua Sahabat

Suasana hati yang menginginkan kesejukan menggoda seorang kawanku yang merindu akan kata-kata dariku। Telah lama aku dan kawanku ini melupa dengan kebersamaan kita। Cerita sebagai elang ३ dahulu berkumandang lagi। bagaimana mungkin kita bisa terlalu sibuk kawan? Padahal matahari terbit dan terbenam seperti biasa…..
“Kawan, maafkanlah atas segala kesalahanku?”ucapnya। “kesalahan bukanlah kesalahan jika engkau tidak menghendakinya kawan. Kita hanya perlu berbenah dengan diri dan melakukan perbuatan untuk memperbaikinya।” sahutku॥
“Diriku telah berusaha untuk menjadi yang terbaik apakah yang menyebabkan aku tetap tidak bisa berbuat apa-apa?। aku menyesal….aku menyesal…..”.
Senyumkupun mengembang untuknya, kuhentikan jemariku ini untuk menekan tombol di laptop ini। akupun mengenal perasaan itu। Sebuah perasaan yang kepelihara dahulu yang membuat aku seperti AKU।
“Seandainya kita hidup tanpa adanya orang lain, kita bisa melakukan apa yang kita mau। Apapun… termasuk juga perbuatan yang buruk। Hanya saja kita terbatas pada keinginan orang yang kita sayangi untuk melakukan apa yang mereka inginkan। Seperti sebuah tempayan, kau harus berisi air untuknya, agar bisa diminum dan berguna। Dengan hal itu, tuntutanlah yang terjadi dan engkau wahai kawanku, berusaha untuk memenuhinya। sedangkan kita hanya manusia yang intinya adalah MAHLUK LEMAH DENGAN KETERBATASAN, tidak mungkin engkau memenuhi segala permintaan yang bukanlah berada pada kemampuanmu। Jadi apa yang bisa kita lakukan? Lakukankanlah apa yang berada pada kuasamu saja, an yang lain yang tidak terpenuhi serahkan pada kekuatan di luar dirimu untuk menyelesaikannya। Dan akibatnya tanggunglah dengan iklas sebab itu adalah bagian dari keputusannya”।
“kawan aku mengerti dan berusaha untuk melakukannya tetapi tetap saja aku tidak bisa dan hasilnya sebuah penyesalan”keluhnya… Akupun mulai menghibur dengan kata-kata dari pemikiranku। “Hidup adalah karya atau perjuangan atau perbuatan, hendaknyalah kita berbuat karena itulah kewajiban, kewajiban… tatkala kita berlaku seperti manusia yang hanya memiliki dua buah rasa yang pada intinya yaitu suka-benci, baik-buruk, dan lainnya, jadi sudah tentu kesenangan yang kau dapat dipastikan bahwa terdapat kesedihan yang menyertainya karena hal itu adalah satu। Latihlah panca inderamu untuk menerima kesedihan itu। Agar engkau tidak menyesal। mari berkaca apakah engkau bisa menentukan apa yang engkau kehendaki?। bagaimana mungkin? katakanlah!!!। Seseorang tak mungkin bisa menjawab tanpa ada soal terlebih dahulu, jadi tenanglah mungkin bukan ini jawabannya, tetapi masih dalam soalnya.”
Larutnya malam menghendaki angin untuk menggoda kami agar menutup mata dalam tidur, tetapi rasa kerinduan yang mendalam pada percapapan dua sahabat, menghilangkan rasa ngantuk। Terjadi sebuah keinginan untuk menambah topik melayang akbit lelah,dan kelelahan dalam kehidupan dari pagi hingga kini melumpuhkan kami juga।
Hai malam… aku bukanlah apa-apa tetapi kehendakmu membuat aku menerima sahabatku dalam tekanan seperti ini, berikanlah petunjuk agar dharmaku sebagai sahabatnya dapat kulakukan, hingga mentari esok akan menari dengan cahayanya menerangi alam semesta.

One response to “Percakapan Dua Sahabat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s