SEBUAH SAJAK UNTUK SANG DEWI

Terdengar suara ketokan pintu depan rumahku, akupun segera cepat-cepat mematikan kompor gas warna hitam yang telah lama kunyalakan agar air yang telah mendidih tidak habis menguap karena panasnya api, lalu akupun melangkah menuju kearah  pintu depan yang tidak jauh dari dapurku tempat biasanya aku memasak.

Sesampainya aku pada pintu paling depan rumahku yang kokoh ini, pintu dari kayu pohon jati inipun kubuka berlahan dan kulihat seorang lelaki tua dengan senyum yang ramah dan dibaju coklatnya itu tertulis Pos Indonesia., “Oh Pak Pos” Pikirku. “Ada apa ya, Pak?”tanyaku dengan penuh keheranan. “Ini Rumahnya Putu Dewi Mayapani?”sahutnya. “Benar, saya sendiri Dewi  Mayapani” jawabku pula kepadanya. “Anda mendapat surat dari Aceh tolong terima dan tanda tangani disini” kata Pak Pos itu seraya menyerahkan sebuah amplop warna kuning dengan pena warna hitam kemudian iapun menunjukkan satu kolom dimana aku harus menandatanganinya. Setelah aku tandatangani dan kukembalikan pulpen hitam itu Pak Pos itupun pamit dan berlalu dengan sepeda motor Honda Astrea 800-nya itu.

Kini ditangan kananku terdapat amplop warna kuning, kupandangi dengan tatapan mata yang tajam. Betapa rasa penasaran berkecamuk di dalam dada, berjuta tanda tanya memenuhi alam pikiranku yang memaksaku untuk mengetahui siapa pengirim surat ini. Hanya tulisan kepada namaku yang tertera di depan amplop ini yang membuat menambah rasa keingintahuan yang mendalam saja dalam hatiku. Lalu kubuka amplop ini, secarik kertas warna merah muda diisi dengan sebuah sajak cinta yang dirangkai dengan kata-kata terindah, begitu indahnya hingga akupun terlena dan terbuai karena hiasan makna yang ada dalam sajak ini. Akupun tersenyum dan membaca sajak ini adalah untuk Sang Dewi, tetapi setelah kulihat tulisan terbawah dalam carik kertas merah muda ini, bagaikan halilintar bergemuruh disiang hari, panas dan dingin menyatu segenap rasa tak menentu karena sebuah nama “I Nyoman Suartika” pengirim dari sajak ini. Oh.. Nyoman Suartika, seorang yang lama kunanti, sebuah nama yang  kurindu dalam hatiku.

Pertama kali aku menngetahuinya ketika pada saat aku kelas 1 SMU dulu, aku sekolah di SMUN 3 Singaraja dan pertemuan kami berawal dari aku membaca novel karya Shakespeare dengan judul “Saudagar Dari Venesia” di perpustakaan sekolah. Kala itu aku duduk dikursi ujung utara ruang perpustakaan itu, pada saat aku baca halaman yang ke-49 aku merasa ada yang aneh, entah apa itu. Kemudian kuhentikan membaca novel itu, dan ternyata seorang lelaki memandangi aku dengan mendalam akupun berusaha memalingkan pirkiranku darinya, tapi tetap saja entah darimana datangnya, selalu saja ada rasa keinginan untuk melihatnya walau hanya sekali-kali saja dengan usaha agar ia tidak tahu bahwa aku memandanginya. Tapi setelah lama aku mencuri pandang terhadapnya, iapun bangkit dari kursi tempat duduknya di sebelah selatan mejaku dulu, menuju kearahku. Apa yang terjadi…., guncangan hebat ada pada jantungku yang berdetak kacau ketika ia dengan wajah tampan dan senyum manis di bibirnya, mendekati aku dan tepat di hadapanku ia berkata “bolehkah aku meminjam novel yang kamu baca itu?” pinta lelaki yang kala itu aku belum mengetahui namanya. Kemudiannya tanganku menutup novel itu dan menyerahkannya padanya. Betapa bibirku tak terkata sedikitpun ketika kuserahkan novel itu padanya dengan pelan. Iapun mengambilnya dan membalikkan tubuhnya seraya berucap kata yang sangat membuatku tersipu, “ kamu manis sekali”. Kata itu masih terngiang begitu syahdu ditelingaku hingga kini

Hari demi hari berlalu, akupun mengenal namanya I Nyoman Suartika nama yang membuat aku penasaran. Namun setelah sekian lama kami saling bertemu “Man Tika“ nama panggilannya selalu membantuku dalam segala hal. Bila kumerasa susah dalam pelajaran ia membantuku dengan iklas. Bila kutertimpa kemalangan sosok Man Tika selalu hadir untuk menolongku. Saat itu kurasakan pribadinya bagai malaikat penolongku yang membuat aku hidup dalam kenyamanan, kebahagiaan, dan rasa kasih yang mendalam. Saat itu telah tumbuh rasa cintaku untuknya begitu dalam hingga tak satupun samudra mampu menandinginya.

Hingga akhirnya tanggal 4 januari 2003 dering telepon rumahku nyaring terdengar. Kumengangkat gagang teleponku kemudian meletakkannya tepat di telingaku. “Halo” ucapku, “Ini Dewi ya?”,“Oh… Bli Man Tika, ada apa Bli?”tanyaku penuh dengan rasa tanda Tanya, ”ada yang ingin Bli katakan sesuatu yang serius”ujarnya. Kata-kata ini semakin menambah belenggu rasa ingin tahuku, “Katakana saja!”perintahku. Kemudian dengan suara nada yang sendu, pelan dan pasti ia mengucapkan”Wix, Bli tak tahu apa yang harus Bli katakan, hatiku ini ada padamu, sejak lama Bli merasakan perasaan yang membuat Bli tak menentu, kini Bli yakin perasaan itu karena Bli cinta kamu”. Cinta…….Cinta……Cinta……., kata itulah yang kutunggu-tunggu akhirnya datang juga.terasa aku melayang-layang dan hidup di sorga saat Man Tika mengatakannya padaku. Tanpa basa-basi sedikitpun kujawab dengan pasti “aku juga cinta kamu”

Maka sejak itulah aku menjalin hubungan dengannya. Hari-hari terlewati dengan penuh kebahagiaan. Rasa senang selalu menyertaiku sampai kami tamat SMU. Aku kuliah di IKIPN Singaraja dan dia bekerja sebagai polisi, kami tetap saling mengasihi dan saling menyayangi. Hingga suatu ketika sepucuk surat melayang kehadapanku yang diantar oleh temanku. Dengan rasa senang kubuka dan kubaca . sebuah sajak cinta berkumandang pada carik kertas pertama, kemudian begitu mengejutkan, begitu menyakitkan, ia mengatakan akan pergi ke Aceh untuk bertugas. Rasa senang berubah menjadi sedih, tak terasa setetes air mata telah jatuh kepipiku. Ia berpesan jika nanti ada sajak cinta dikirim olehnya berarti ia akan segera pulang untuk menemuiku, ia mengharapkan agar aku selalu mengingatnya, mendoakannya, dan menunggunya sampai dia pulang kesisiku. Dan akupun berjanji padanya, bahwa aku akan selalu menunggu.

Bulan pertama, bulan kedua dan ketiga ia selalu memberi kabar padaku. Tetapi selanjutnya berita darinya tak satupun sampai padaku, hingga terlalu lama rinduku padanyapun telah terlupakan.

Namun kini sebuah sajak cinta bagai mesin waktu yag mengirimku ke masa lalu. Rasa sesal tiba-tiba datang menghantuiku, rasa takut berkecamuk jika ia kembali kesini, karena sekarang aku telah bersuami.

16 Mei 2007

PUJANGGA LARA

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s