Menuju Keadilan Melalui Kesejahteraan Sosial

Salah satu ciri penting manusia adalah kemampuannya melakukan diskresi, yang berasal dari kesadaran-diri (self-awareness). Hal ini kemudian banyak dibahas oleh filosof (misalnya Plato, Aristoteles, Immanuel Kant).  ciri penting lain adalah “ke-sejarah-an”: manusia mampu melakukan refleksi atas masa lampau, dan kemudian mengembangkan hal-hal yang relevan dan perlu untuk masa sekarang dan masa mendatang.

Dari kedua hal di atas, muncullah berbagai refleksi atas “manusia” . Kedua hal di atas juga menjadi dasar penting untuk diwujudkannya keadilan sosial. Kehidupan manusia ditandai dengan dua hal di atas. Jika kekuatan fisik semata, atau hanya dimensi “sekarang” yang menguasai kehidupan manusia, maka manusia akan punah, karena akan saling memusnahkan.

Antara keadilan distributif dan keadilan komutatif terdapat perbedaan dan persamaan. Di dalam proses distribusi akan tampak ada dua pihak, yaitu pembagi dan penerima. Di sini posisi pembagi kelihatan lebih tinggi dibandingkan dengan penerima. Sementara itu dalam proses pertukaran kedua pihak seharusnya berada pada posisi yang sama. Ditinjau dari sudut pertukaran, pekerja menukarkan tenaganya dengan uang. Analogi pertukaran jasa dengan uang ini mirip dengan proses jual beli barang. Pihak pertama memiliki barang atau jasa dan pihak lain memiliki uang.

Persamaan prinsip keadilan distributif dengan keadilan komutatif akan menjadi sangat jelas bila kaidah distribusi yang digunakan adalah ekuitas pada hubungan dua pihak (diadic), terutama bila masukan (input) keduanya setara. Permasalahannya, bila masukan kedua pihak berbeda sangat jauh, kesetaraan antara kedua pihak itu juga akan sulit tercapai. Meskipun demikian perbedaan yang besar itu masih dapat dilihat persamaan prinsipnya bila pada keadilan komutatif menekankan aturan no harm dan no intervention (Keraf, 1995, 1996). Artinya, pertukaran akan mirip distribusi karena pihak yang kuat (input besar) tidak berusaha mempengaruhi, merusak, maupun mencaplok pihak yang lemah.

Keadilan sosila adalah keadilan yang merata bagi seluruh rakyat Indonesia. Keadilan sosial adalah suatu cermnan bahwa rayat telah hidup dalam kehidupan yang adil dan kemakmuran. Sehingga dalam hal ini politk Hukum sebagai instrumens hukum dalam perwujudan keadilan dan kemakmuran wajib dilandasi oleh keadilan sosial sesuai dengan Pancasila.

Sebagai warga Negara yang baik wajib untuk mengembangkan perbuatan yang luhur, yang mencerminkan sikap dan suasana kekeluargaan dan kegotongroyongan. Hal ini dilandasi karena manusia tidak bisa hidup sendiri. Oleh karena itu, perwujudan dari keadilan sosial adalah bagaimana setiap warga Negara bersikap baik dan mejamin rasa kekeluargaan dalam kehidupannya. Tentunya rasa kekeluargaan ini dapat diwujudkan secara konkrit melalui jiwa kegotongroyongan.

Membuat keputusan dalam menghadapi sekian bayak kepentingan amatlah sulit. Dalam politik hukum hal ini tidak bisa dikesampingkan begitu saja karena melibatkan seluruh rakyat. Jika hanya kepentingan sendiri diperhatikan dipastikan tidak ada keadilan sosial. Untk itu, Mengembangkan sikap adil terhadap sesama sangat mutlak dperlukan.

Menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban merupakan salah satu hal pokok yang tidak boleh dihindari. Keadilan sosial dalam politik sebagai cita hukum adalah hal yang mutak karena pasti mengandung undur hak dan kewajiban. Jika tidak ada keseimbangan ini, maka segala perbuatan akan tidak terasa adil. Dalam hal ini, keadilan sosial terjadi karena kesimbangan hak dan kewajiban.

Kemerdakaan setiap waraga Negara harus pula diperhatikan terutama masalah hak sebagai manusia. Menghormati hak orang lain juga adalah bagian penting dalam pencapaian keadilan sosial. Hal ini dikarenakan keadilan osial dirasakan oleh manusia yang terhormati hak-haknya. Jika tidak tersa penghormatannya maka keadilan sangat jauh pula dirasakan.

Sebagai mahluk sosila manusia tidak bisa berdiri sendiri. Dalam pembangnuan nasional diterangkan bahwa merupakan pembangunan sia seutuhnya dan wajib dikatakan bahwan manusia tidak boleh manusia Indone egois dalam hal ini. Maka mewujudkan keadilan sisial didahului oleh suka memberikan pertolongan kepada orang lain agar dapat berdiri sendiri.

Tidak menggunakan hak milik untuk usaha-usaha yang yang bersifat pemerasan terhadap orang lain dilaksanakan sebagai wujud bahwa sesame warga Negara harus saling membantu. Bukan karena ia memliki sesuatu atau kekuasaan sehingga dapat menguasai manusia yang lain, tetapi tidak boleh terdapat unsur pemaksaan dalam setiap permamintaan karena apa yang ia miliki. Untuk itulah yang menyebabkan kekuasaan tidak boleh diagungkan dalam pencapaian keadilan sosial.

Tidak menggunakan hak milik untuk hal-hal yang bersifat pemborosan dan gaya hidup mewah juga adalah wujud dari cita hukum nasional. Karena pembentukan hukum melalui legislator maka sikap ini sangat bertentangan dengan keadilan sosial. Bisa diketahui jika manusia melakukan pemborosan maka rakyat miskin lainnya akan semakin menderita.

Merusak fasilitas umum, membuat keonaran di tempat umum atau karena ia memiliki kekuasaan lalu merasa dapat menguasai keluruh milik umum dapat merusak tatanan kemasyarakatan yang ada. Masyarakat sangat membutuhkan fasilitas umum dalam mencapai keadila dan kemakmuran. Tidak ada manusia yang merasa adil jika dihadapkan pada situasi yang tidak aman. Keadilan sosial dicapai apabila setiap warga Negara tidak menggunakan hak milik untuk hal-hal yang bertentangan dengan atau merugikan kepentingan umum.

Manusia dapat mencapai apa yang dia inginkan tentunya tidak karena ia berdiam diri begitu saja. Keadilan sosial tidak bisa didapatkan karena manusa berpangku tangan. Letak kepribadian bangsa juga sangat mempengaruhi. Jika sebagiknya keadilan sosial itu adalah sebuah hasil perjuangan maka setiap warga Negara harus bersama-sama berjuang dengan cara bekerja keras. Keadilan sosial dilhami oleh jiwa orang yang suka bekerja keras.

Hak kekayaan intelektual yang berasal dari barat, sebenarnya juga bertujuan untuk mewujudkankeadilan sosial. Terlebih dari bukan hak yang ditonjolkan melainkan kewajiban kekayaan intelektual. Dipastikan kalau masyarakat akan lebih nyaman berkarya dan dengan sebdirinya orang akan melakukan penghormatan. Keadilan sosila diperlihatkan dengan suka menghargai hasil karya orang lain yang bermanfaat bagi kemajuan dan kesejahteraan bersama.

Suka melakukan kegiatan dalam rangka mewujudkan kemajuan yang merata dan keadilan sosial. Kegiatan yang dimaksud adalah segala perbuatan baik yang secara individu maupun bersama-sama. Namun sekali lagi dijelasakan bahwa kersama-sama ini tidak boleh hanya untuk satu golongan tetapi wajib untuk kesemua pihak. Pihak yang dimaksud adalah seluruh rakyat Indonesia yang berdiri di bumi Indonesia. Sehingga yang terjadi bukanlah pembangunan yang berat sebelah tetapi merata di segala bidang.

One response to “Menuju Keadilan Melalui Kesejahteraan Sosial

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s