Hukum, Budaya Dan Agama

Perkembangan ilmu pengetahuan semakin pesat dewasa ini membuat perubahan yang mendasar dalam tatanan hidup masyarakat secara keseluruhan. Dengan ilmu pengetahuan yang ada pada saat ini setiap orang dapat menerima atau menelaah setiap hasil yang diperoleh atau yang didapatkan dari suatu pengkajian dengan ilmu pengetahuan sehingga dengan mudahnya mereka merubah hal-hal yang sudah biasa mereka lakukan selama ini.

Dalam era globalisasi yang merasuk pada setiap bidang kehidupan masyarakat tentunya dapat membuat perubahan dalam tatanan berkehidupan di masyarakat yang semakin kompleks akibat dari kepentingan yang berbeda yang masuk dari dunia luar yang jarang dilakukan atau tidak dilakukan oleh orang pada umumnya.

Perkembangan ilmu pengetahuan dan terjadinya era globalisasi yang mempengaruhi segala aspek kehidupan manusia tersebut tidak semestinya merusak tatanan hidup yang ada tetapi seharusnya menambah keanekaragaman budaya di setiap kehidupan berbangsa.

Namun sebegitu banyaknya perubahan yang ada, masyarakat adat sama sekali sedikit tersentuh pengaruh budaya luar, hal ini disebabkan karena budaya sangat di dasari oleh agama dan diterapkan secara turun-temurun oleh masyarakat ke generasi berikutnya. Agama seringkali merasuk kedalam Budaya dan kemudian menjadi kebudayaan suatu daerah itu sendiri, sehingga menjadikan suatu budaya mencerminkan agama.

Dari hal ini dapat diketahui bahwa sebenarnya agama dan budaya sangat berhubungan erat terutama dalam proses pembentukan adat yang senantiasa berbaur menjadi satu. Dan hal ini menyebabkan agama dan budaya sulit untuk dipisahkan dan ditelaah satu persatu, karena agama merupaka unsur kebudayaan.

Proses masuknya agama kedalam budaya bisa saja melalui adat yang digunakan. agama tidak digunakan.

Ada dua teori tentang kaitan hukum adat dengan kaidah agama yang lazim dikenal yaitu

–          Teori Receptio in complexu(van der Berg) bahwa hukum adapt suatu masyarakat tertentu adalah hukum agama yang dipeluknya.

–          Teori receptie yaitu hukum agama akan masuk kalau hukum adat menghendakinya. Jadi kalau hukum adat tidak menghendakinya maka hukum agama tidak digunakan.

Menurut Van Den Berg dengan teorinya yang terkenal dengan istilah receptio in complexu yang berarti bahwa hukum adat yang dianut didalam masyarakat adalah keseluruhan hukum agama yang dianutnya jadi maksud Van Den Berg disini adalah hukum/kaidah agama sama dengan hukum adat. Seperti di masyarakat muslim di jawa pasti menggunakan hukum/kaidah agamanya sebagai hukum adat. Sehingga dalam hal ini agama sebagai unsur sebagai kebudayaan mempengaruhi setiap bidang kehidupan manusia secara keseluruhan dan menjadi unsur kebudayaan.

Dari hal ini tentu masih perlu dikaji lebih mendalam tentang hubungan agama dan kebudayaan, sehingga dapat diketahui pengaruh agama terhadap kebudayaan tentang bagaimana agama mempengaruhi kebudayaan dan membuat buya mencerminkan agama yang hidup di dalamnya.

 Apakah kebudayaan itu?

Kebudayaan = cultuur (bahasa Belanda) = culture (bahasa Inggris) = tsaqafah ( bahasa Arab), berasal dari perkataan Latin “Colere” yang artinya mengolah, mengerjakan, menyuburkan dan mengembangkan arti culture sebagai “segala daya dan aktivitas manusia untuk mengolah dan mengubah alam”.

Ditinjau dari sudut bahasa Indonesia, kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta “ buddhayah” yaitu bentik jamak dari buddhi yang berarti budi atau akal.

Pendapat lain mengatakan, bahwa kata budaya adalah sebagai suatu perkembangan dari kata majemuk budidaya, yang berarti daya dan budi. Karena itu mereka membedakan antara budaya dan kebudayaan. Budaya adalah daya dari budi yang berupa cipta, karsa dan rasa; dan kebudayaan adalah hasil cipta, karsa dan karsa tersebut.

Mengenai definisi “kebudayaan”, telah banyak sarjana-sarjana ilmu sosial yang mencoba menerangkan atau setidak-tidaknya telah menyususn definisinya. Ada 2 orang sarjana antropologi yaitu A.L. Kroeber dab C. Kluckhohn, yang pernah mengumpulkan sebanyak mungkin definisi tentang paham kebudayaan yang termasuk dalam banyak buku yang berasal dari banyak pengarang dan sarjana. Terbukti ada 160 macam definisi tentang kebudayaan, yang kemudian dianalisis dicari intinya dan diklarifikasikan dalam berbagai golongan dan kemudian hasil penyelidikan itu diterbitkan dalam suatu kitab bernama “Culture, A critical Review of Concepts and Definitions 1952”

Adapun ahli antropologi yang merumuskan definisi tentang kebudayaan secara sistematis dan ilmiah adalah  E. L. Taylor, yang menulis dalam bukunya yang terkenal: “ Primitive Culture” bahwa kebudayaan adalah keseluruhan yang kpmpleks, yang di dalamnya terkandung ilmu pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat dan kemampuan yang lain, serta kebiasaan yang didapat oleh manusia sebagai anggota masyarakat.

Definisi lain dikemukakan oleh R. Linton dalam buku : ‘The Cultural background of personality” bahwa kebudayaan adalah konfigurasi dari tingkah laku yang dipelajari dan hasil tingkah laku, yang unsur-unsur pembentuknya didukung dan diteruskan oleh anggota dari masyarakat tertentu.

C. Kluckhohn dan W.H Kelly mencoba merumuskan definisi tentang kebudayaan sebagai hasil tanya jawab dejngan ahli-ahli antropologi, ahli hukum, ahli psikologi, ahli sejarah,filsafat dan lainnya. Rumusan itu berbunyi bahwa : Kebudayaan adalah pola untuk hidup yang tercipta dalam sejarah yang explicit, implicit, rasional, irrasional yang terdapat pada setiap waktu sebagi pedoman-pedoman yang potensial bagi tingkah klaku manusia.

Dari definisi-definisi tersebut diatas dapatlah kita tariik kesimpulan, bahwa bagi ilmu social arti kebudayaan adalah amat luas, yang meliputi kelakuan dan hasil kelakuan manusia, yang diatur oleh tata kelakuan yang harus didapatkan dengan belajar dan yang semua disusun dalam kehidupan masyarakat. Di dalam masyarakat ramai kebudayaan sering diartikan sebagai the general body of the art, yang meliputi seni sastra, seni musik, seni pahat, seni rupa, pengetahuan filsafat atau bagian-bagian yang indah dari kehidupan manusia.. dalam penggunaan seperti ini pengertian kebudayaan ditempatkan disamping pengertian ekonomi, politik, hukum, sedang dalam pengertian ilmu social kebudayaan adalah keseluruhan cara hidup suatu masyarakat.

Prof. Dr. Koentjaraningrat menguraikan tentang wujud kebudayaan menjadi 3 macam, yaitu :

wujud kebudayaan sebagai kompleks dari ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan dan sebagainya

merupakan wujud ideal kebudayaan. Sifatnya abstrak, tak dapat diraba ayau difoto. Letaknya dalam pikiran manusia.sekarang kebudayaan ideal ini banyak disimpan dalam arsip computer ataupun tempat-tempat lainnya. Ide-ide dan gagasan manusia ini banyak yang hidup dalam masyarakat dan memberi jiwa kepada masyarakat. Gagasan-gagasan itutidak terlepas satu sama lain melainkan berkaitan menjadi suatu system, disebut system budaya atau culture system yang dalam bahasa Indonesia disebut adat istiadat.

wujud kebudayaan sebagai kompleks aktivitas serta tindakan berpola dari manusia dan masyarakat

disebut system social, yaitu mengenai tindakan berpola manusia itu sendiri system social ini terdiri dari aktivitas-aktivitas manusia yang berinteraksi satu sama lainnya dari waktu ke waktu yang selalu menurut pola tertentu. System social ini bersifat konkrit sehingga bisa diobservasi, difoto dan didokumentir.

wujud kebudayaan sebagi benda-benda hasil karya manusia.

Disebut kebudayaan fisik, yaitu seluruh hasil fisik karya manusia dalam masyarakat. Sifatnya sangat konkrit berupa benda-benda yang bisa diraba, difoto dan dilihat.

Ketiga wujud kebudayaan tersebut dalam kehidupan masyarakat tidak dapat dipisahkan satu sama lainnya. Kebudayaan ideal dan adat istiadat mengatur dan mengarahkan tindakan manusia baik gagasan, tindakan dan karya manusia menghasilkan benda-benda kebudayaan secara fisik. Sebaliknya kebudayaan fisik membentuk lingkungan hidup tertentu yang makin menjauhkan manusia dari lingkungan alamnya sehingga bisa mempengaruhi pola berpikir dan perbuatannya

Adapun unsure kebudayaan yang bersifat universal yang dapat kita sebut sebagai isi pokok yiap kebudayaan di dunia ini, ialah:

1.      peralatan dan perlengkapan hidup manusia sehari-hari

2.      misalnya; pakaian, perumahan, alat rumah tangga, senjata dsbnya

3.      system mata pencaharian dan system ekonomi

4.      misalnya; pertanian, peternakan, system produksi

5.      system kemasyarakatan

6.      misalnya; kekerabatan, system perkawinan, system warisan

7.      bahasa sebagai media komunikasi, baik lisan maupun tertulis.

8.      Ilmu Pengetahuan

9.      Kesenian, misalnya seni suara, seni rupa, seni gerak

10.  system religi

Masing-masing unsur kebudayaan universal ini pasti menjelma dalam ketiga wujud budaya tersebut diatas, yaitu wujud system budaya, system social dan unsure budaya fisik. Dengan demikian system ekonomi misalnya, mempunyai wujud sebagai konsep-konsep, rencana-rencana dan kebijaksanaan yang berhubungan dengan ekonomi, tetapi juga mempunyai wujud berupa tindakan dan interaksi berpola antara produsen, pedagang dan konsumen. Selain itu dalam system ekonomi terdapat juga unsur-unsurnya yang berupa peralatan dan benda-benda ekonomi. Demikian pula system religi misalnya mempunyai wujudnya sebagai system keyakinan dan gagasan tentang Tuhan, Dewa dan roh halus, tetapi mempunyai wujudnya juga berupa upacara-upacara, selain juga mempunyai wujud sebagai benda religius.

Perlu dimengerti bahwa unsur-unsur kebudayaan yang membentuk struktur kebudayaan itu tidak berdiri lepas dengan lainnya. Kebudayaan bukan hanya sekedar mempunyai jumlah dari unsur-unsurnya saja, melainkan merupakan keseluruhan dari unsur-unsur tersebut yang saling berkaitan erat (interaksi), yang membentuk kesatuan yang harmonis. Masing-masing unsur saling mempengaruhi secara timbale balik. Apabila terjadi perubahan pada salah satu unsur, maka akan menimbulkan perubahan pada unsur yang lain pula.
Agama sebagai unsur kebudayaan

 

Agama tak bisa dipisahkan dengan kehidupan manusia itu sendiri, karena setiap orang pasti pernah memiliki atau merasakan penderitaan, senang dan perasaan lain sebagainya yang datang dan tidak bisa ditolak sehingga harus diterima sebagaimana adanya dan pasrah kepada Tuhan. Segala macam lika-liku kehidupan ini berbeda dialami oleh setiap orang.

Dengan hal ini manusia mengekspresikan segala pengalaman kehidupan yang dialaminya dan kemudian menuangkannya kedalam kayar seni, misalnya seni sastra, seni wayang, seni drama, seni musik, dan sebagainya.

Dan dengan mempelajari berbagai pengalaman kehidupan baik yang dialami oleh diri sendiri maupun orang lain kemudian dijadikan landasan manusia untuk melanjutkan kehidupan dengan menggunank akal, persaan dan tindakan sehingga membentuk suatu kebudayaan.

Agama dalam pengertian “Addien”, sumbernya adalah wahyu dari Tuhan. Sedang kebudayaan sumbernya dari manusia. Jadi agama tidak dapat dimasukkan ke dalam lingkungan kebudayaan selama manusia berpendapat bahwa Tuhan tak dapat dimasukkan ke dalam hasil cipta manusia.

Orang-orang atheis umumnya beranggapan bahwa Tuhan adalah ciptaan manusia yang timbul dari perasaan takutnya. Semuanya bersumber pada materi, jadi Tuhan juga hasil perkembangan perpautan materi-materi akal manusia. Oleh golongan ini agama dipandang sebagai cabang kebudayaan, karena agama merupakan cara berpikir dan merasa dalam kehidupan suatu kesatuan social mengenai hubungan dengan Yang Maha Kuasa. Agama ini dapat diistilahkan dengan : “agama budaya”, seperti misalnya : animisme, dinamisme, naturalisme (serba alam), spiritual (serba arwah), agama Kong Hucu, agama Sinto bahkan agama Hindu dan Budha termasuk juga dalam kategori ini.

Bagi orang yang ber-Tuhan adalah sebaliknya. Alam semesta ini menurut mereka adalah ciptaan Tuhan. Dengan demikian agama dapat ikut mempengaruhi terciptanya kebudayaan, sedangkan kebudayaan tak dapat mencipta agama. Sebagaimana halnya Tuhan dapat mempengaruhi manusia, tetapi manusia tidak dapat mempengaruhi Tuhan.

Agama adalah bukan produk manusia, tidak berasal dari manusia, tetapi Tuhan. Tuhan mengutus Rasul  untuk menyampaikan agama kepada umat. Dengan perantara malaikat, Tuhan mewahyukan firman-firmanNya di dalam kitab suci kepada pesuruh-Nya. Isi kitab suci itu berasal dari Tuhan, disampaikan oleh Malaikat, diucapkan oleh Rasul, sehingga dapat ditangkap, diketahui, dipahami dan selanjutnya diamalkan oleh umat, Islamologi mengistilahkan agama jenis kedua ini :” Addinus Samawi” yaitu agama yang diturnkan dari atas, dari Tuhan. Contoh : agama Yahudi, Nasrani dan Islam.

Jadi jelas bahwa agama buka bagian dari kebudayaan, tetapi berasal dari Tuhan. Kebudayaan menurut Islam ialah mengatur hubungan manusia dengan manusia dan alam nyata juga mengatur hubungan dengan alam gaib, terutama dengan Yang Maha Esa.

Pengaruh Agama Terhadap Kebudayaan

Akulturasi dalam lapangan agama dapat mempengaruhi isi iman dan budi yang tinggi. Akulturasi dalam lapamgan agama disebut dinamai : “syncrotisme” (perpaduan antara 2 kepercayaan), misalnya agama Jawa terdiri dari Islam bercampur Budha.

Menurut Prof. Koesmadi SH pengaruh kebudayaan Hindu terhadap kebudayaan Indonesia itu bersifat “penetration pasifique ef suggestive”’ artinya bersifat damai dan mendorong. Sebab datangnya kebudayaan Hindu bersifat menggiatkan dan meninggikan kebudayaan Indonesia-Kuno dengan tidak melepaskan kepribadian dan setelah kebudayaan Hindu hilang, kebudayaan Indonesia tetap kaya dan tetap tinggal dalam kepribadiannya.

Menurut Yosselin de Yong, pengaruh Islam terhadap kebudayaan Indonesia bersifat “penetration pasifique dan tolerante et constructive (damai dan membangun). Jadi tidak hanya damai dan mendorong saja, tetapi juga membangun. Seperti pengaruh-pengaruh agama Islam dalam perkawinan, warisan, hak-hak wanita dan lain-lain.

Pengaruh agama tidak hanya pada kepercayaan dan adat istiadat sehari-hari, bahkan pada bidang hukum dan upacara-upacaranya, misalnya hair raya besar keagamaan, upacara kematianwarisan dan lain sebagainya, dan hal ini membuat suatu budaya mencerminkan agama yang hidup di dalamnya

Kesimpulan

a.       Kebudayaan adalah yang meliputi kelakuan dan hasil kelakuan manusia, yang diatur oleh tata kelakuan yang harus didapatkan dengan belajar dan yang semua disusun dalam kehidupan masyarakat

b.      Prof. Dr. Koentjaraningrat menguraikan tentang wujud kebudayaan menjadi 3 macam (1) wujud kebudayaan sebagai kompleks dari ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan dan sebagainya (2) wujud kebudayaan sebagai kompleks aktivitas serta tindakan berpola dari manusia dan masyarakat (3) wujud kebudayaan sebagi benda-benda hasil karya manusia.

c.       Adapun unsure kebudayaan yang bersifat universal yang dapat kita sebut sebagai isi pokok yiap kebudayaan di dunia ini, ialah:,peralatan dan perlengkapan hidup manusia sehari-hari,misalnya; pakaian, perumahan, alat rumah tangga, senjata dsbnya; system mata pencaharian dan system ekonomi,misalnya; pertanian, peternakan, system produksi; system kemasyarakatan, misalnya; kekerabatan, system perkawinan, system warisan; bahasa sebagai media komunikasi, baik lisan maupun tertulis.; Ilmu Pengetahuan; Kesenian, misalnya seni suara, seni rupa, seni gerak; system religi.

d.      Pengalaman kehidupan baik yang dialami oleh diri sendiri maupun orang lain kemudian dijadikan landasan manusia untuk melanjutkan kehidupan dengan menggunank akal, perasaan dan tindakan sehingga membentuk suatu kebudayaan.

e.       Pengaruh agama tidak hanya pada kepercayaan dan adat istiadat sehari-hari hal ini membuat suatu budaya mencerminkan agama yang hidup di dalamnya

Saran

Sasaran dalam menjalankan kehidupan adalah utuk memperoleh kebahagiaan baik material maupun jasmani. Seharusnya dapat menjadi dasar manusia untuk menjalani kehidupan dan berinteraksi dengan manusia lainnya tanpa memperhatikan perbedaan kepentingan yang ada. Tentunya dengan berlandaskan agama senantiasa kita diarahkan untuk berbuat kebaikan untuk sesame. Dengan hal ini, mentaati ajaran agama secara terus-menerus dan konsekuen dengan dasar kedamaian di kehidupan ini maka niscaya perbuatan baik akan menjadi suatu kebudayaan manusia yang paling besar jika telah terimplementasikan ke dalam kehidupan sehari-hari.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s