Moral Dalam Perspektif Hukum Formal

Kata moral selalu mengacu pada baik-buruknya manusia sebagai manusia (bukan sebagai dosen, fransiskan, tukang becak). Bidang moral adalah bidang kehidupan manusia dilihat dari segi kebaikkannya sebagai manusia. Norma-norma moral adalah tolok ukur untuk menentukan betul salahnya sikap dan tindakan manusia dilihat dari segi baik-buruknya sebagai manusia dan bukan sebagai pelaku peran tertentu dan terbatas.

Hukum adalah norma-norma yang dituntut dengan tegas oleh masyarakat karena dianggap perlu demi keselamatan dan kesejahteraan umum. Norma hukum adalah norma yang tidak dibiarkan untuk dilanggar. Orang yang melanggar hukum pasti dikenai hukuman sebagai sanksi.

Terdapat hubungan erat antara moral dan hukum; keduanya saling mengandaikan dan sama-sama mengatur perilaku manusia. Hukum membutuhkan moral. Hukum tidak berarti banyak kalau tidak dijiwai oleh moralitas. Tanpa moralitas, hukum adalah kosong. Kualitas hukum sebagian besar ditentukan oleh mutu moralnya. Karena itu, hukum harus selalu diukur dengan norma moral. Produk hukum yang bersifat imoral tidak boleh tidak harus diganti bila dalam masyarakat kesadaran moral mencapai tahap cukup matang. Di sisi lain, moral juga membutuhkan hukum. Moral akan mengawang-awang kalau tidak diungkapkan dan dilembagakan dalam masyarakat dalam bentuk salah satunya adalah hukum. Dengan demikian, hukum bisa meningkatkan dampak sosial dari moralitas. “Menghormati milik orang lain” misalnya merupakan prinsip moral yang penting. Ini berarti bukan saja tidak boleh mengambil dompet orang lain tanpa izin, melainkan juga milik dalam bentuk lain termasuk milik intelektual, hal-hal yang ditemukan atau dibuat oleh orang lain (buku, lagu, komposisi musik, merk dagang dsb).

Pengertian moral:

Sama dengan etika, yaitu nilai-nilai dan norma-norma yang menjadi pegangan seseorang atau suatu kelompok dalam mengatur tingkah lakunya.

  • ETIKA berasal dari bahasa Yunani yaitu “ETHOS” yang memiliki arti kebiasaan.
  • Istilah Moral dan Etika sering diperlakukan sebagai dua istilah yang sinonim.
  • Hal-hal yang perlu diperhatikan adanya suatu nuansa dalam konsep dan pengertian moral dan etika :
  • Moral/Moralitas biasanya dikaitkan dengan system nilai tentang bagaimana kita harus hidup secara baik sebagai manusia.

Sistem nilai ini terkandung dalam ajaran berbentuk :Petuah-petuah, nasihat, wejangan, peraturan, perintah dan semacamnya yang diwariskan secara turun-temurun melalui agama atau kebudayaan tertentu tentang bagaimana manusia harus hidup secara baik agar ia benar-benar menjadi manusia yang baik.

  • Berbeda dengan moralitas, etika perlu dipahami sebagai sebuah cabang filsafat yang berbicara mengenai nilai dan norma moral yang menentukan perilaku manusia dalam hidupnya.

Kata moral berasal dari bahasa Latin mos (jamak:mores), yang berarti kebiasaan atau adat. Kata mores dipakai oleh banyak bahasa masih dalam arti yang sama, termasuk bahasa Indonesia. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia “moral” dijelaskan dengan membedakan tiga arti yakni:

1) ajaran tentang baik buruk yg diterima umum mengenai perbuatan, sikap,  kewajiban, dsb; akhlak; budi pekerti; susila

2) kondisi mental yg membuat orang tetap berani, bersemangat, bergairah, berdisiplin, dsb; isi hati atau keadaan perasaan sebagaimana terungkap dl perbuatan

3) ajaran kesusilaan yg dapat ditarik dr suatu cerita.”

Dari definisi kamus di atas, bisa dipahami bahwasanya pengertian moral terkait dengan kualitas tindakan manusia, yaitu baik dan buruk. Satu hal yang khas adalah moralitas hanya dimiliki manusia. Hewan apalagi tumbuhan tidak memiliki kesadaran tentang baik dan buruk, yang harus dilakukan atau tidak pantas dilakukan. Kata “harus” sendiri bisa mencakup dua pengertian: keharusan alamiah dan keharusan moral. Keharusan alamiah terjadi secara otomatis karena hukum alam. Keharusan moral didasarkan pada suatu hukum lain: hukum moral. Di dalam filsafat, ilmu yang membahas tentang moralitas atau tentang manusia sejauh berkaitan dengan moralitas dikenal dengan nama etika.

Moralitas Dalam perspektif HUkum Formal di Indonesia

Satu hal terpenting yang patut digaris bawahi dari etika adalah konsep “kehendak baik adalah kehendak yang didorong oleh kewajibannya.” Ini berarti, manusia terdorong melakukan perbuatan atau tindakan baik karena kepatuhannya pada kewajiban. Kewajiban dipandang sebagai dasar tindakan moral dan dikenal sebagai hukum moral. Melakukan kewajiban karena mau memenuhi kewajiban itulah kehendak yang baik tanpa pembatasan. Itulah yang disebut moralitas. Dalam menilai perbuatan manusia, hampir tidak mungkin diberikan penilaian moral yang mutlak terhadap orang lain. Ukurannya adalah diri sendiri, yang berarti tiap orang harus benar-benar memperhatikan hati nuraninya. Disinilah perlunya sebuah norma hukum ditegakkan. Norma hukum sebenarnya memiliki perbedaan dengan norma moral. Norma hukum adalah norma yang dituntut dengan tegas oleh masyarakat karena dianggap perlu demi keselamatan dan kesejahteraan umum. Sementara norma moral adalah tolok ukur yang dipakai masyarakat untuk mengukur kebaikan seseorang. Di negara kita, sering dikatakan kita adalah bangsa yang bermoral. Namun nyatanya, dekadensi moral juga dipertontonkan dengan telanjang. Karena sulitnya moral dinilai dari luar, maka diperlukan suatu landasan agar manusia bisa bertindak baik. Dengan mengingat pendapat Kant bahwa tindakan hanya baik bila didorong oleh kehendak baik yaitu kehendak untuk memenuhi kewajiban semata-mata, maka kewajiban itu perlu dirumuskan dengan tegas dalam hukum formal.

Memang, sebenarnya ada perbedaan signifikan antara hukum dan moral, yaitu:

1. Hukum lebih dikodifikasi daripada moralitas. Ini berarti dituliskan dan secara kurang lebih sistematis disusun dalam kitab undang-undang. Karena itu norma yuridis memiliki kepastian lebih besar dan bersifat obyektif. Sebaliknya norma moral lebih bersifat subyektif dan akibatnya banyak ‘diganggu’ oleh diskusi-diskusi yang mencari kejelasan tentang yang harus dianggap etis atau tidak etis;

2. Hukum membatasi diri pada tingkah laku lahiriah saja, sedangkan moral menyangkut juga sikap batin seseorang.. Orang yang hanya dengan lahiriah memenuhi norma-norma moral, disebut berlaku secara “legalistis”. Sebab, legalisme ialah sikap memenuhi norma-norma etis secara lahiriah saja tanpa melibatkan diri dari dalam.

3.  Sanksi yang berkaitan dengan hukum berlainan dengan sanksi yang berkaitan dengan moralitas. Hukum untuk sebagian terbesar dapat dipaksakan. Tapi norma-norma etis tidak dapat dipaksakan, karena tidak akan efektif. Perbuatan-perbuatan etis harus berasal dari dalam. Satu-satunya sanksi di bidang moralitas adalah hati nurani yang tidak tenang.

4. Hukum didasarkan atas kehendak masyarakat dan akhirnya atas kehendak negara. Moralitas didasarkan pada norma-norma moral yang melebihi para individu dan masyarakat. Hukum harus diakui oleh negara supaya berlaku sebagai hukum. Masyarakat harus mematuhi norma moral tanpa bisa diubah.

Meskipun terdapat perbedaan, namun moral jelas membutuhkan hukum. Moral akan menjadi sesuatu yang semu dan abstrak belaka bila tidak diejawantahkan dalam hukum. Maka, dalam menerapkan hukum moral, perlu juga dilegalisasikan dalam hukum formal. Sisi inilah yang sebaiknya diterapkan di Indonesia. Seperti kita ketahui bersama, hukum yang dipakai saat ini di Indonesia adalah hukum buatan zaman kolonial yang sudah ratusan tahun umurnya. Banyak sekali pasal-pasal dan aturan-aturan yang tidak sesuai dengan moralitas. Misalnya saja masih adanya aturan hatzaai artikelen atau pasal penyebar kebencian di dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) kita. Di dalam pasal tersebut diatur tentang adanya larangan bagi rakyat menyebarkan kebencian kepada penguasa. Pasal ini bertentangan dengan moralitas karena ia mengebiri hak rakyat untuk menyuarakan hati nuraninya dan semata melindungi kepentingan penguasa. Bahkan di Belanda sendiri pasal ini sudah dihapus lebih dari seabad lalu. Dekadensi moral yang terjadi di negeri ini terjadi karena tidak tegaknya hukum formal kita. Hukum formal di sini tidak semata berupa KUHP, tapi juga undang-undang dan peraturan-peraturan berkekuatan hukum lainnya. Hukum moral dari Kant mensyaratkan adanya dorongan untuk melaksanakan kewajiban agar sebuah tindakan bisa disebut baik. Sekarang, bagaimana orang bisa melaksanakan kewajiban kalau kewajibannya tidak diatur jelas dalam hukum? Dan sebaliknya, bagaimana orang tidak akan terdorong melanggar hukum moral kalau sanksinya tidak tegas? Hukum moral kerapkali dianggap cuma omong kosong, karena ia tak punya kekuatan sanksi lahiriah. Sanksi bagi pelanggar hukum moral sebatas tidak tenangnya hati nurani. Namun bagaimana itu bisa terlihat dari luar?

Maka, agar hukum moral bisa tegak di Indonesia, tidak cukup dengan penataran apalagi himbauan belaka. Sudah terbukti, orang Indonesia cenderung mengabaikan himbauan yang tidak disertai sanksi tegas. Sudah saatnya hukum formal kita ditegakkan di atas hukum moral, karena jelas hukum formal bisa meningkatkan dampak sosial dari moralitas. Hukum negara kita harus ditegakkan, kalau perlu disusun ulang disesuaikan dengan kebutuhan kontemporer dan terutama dengan moralitas. Tanpa moralitas, hukum akan kosong. Dan yang patut diingat adalah prinsip utama: moral menilai hukum, bukan sebaliknya.

Simpulan

Dalam pandangan HUKUM FORMAL Perbedaan di antara moralitas dan norma hukum perlu tetap dipertahankan karena tidak semua norma moral dapat serta perlu dijadikan norma hukum. Kendati pemenuhan tuntutan moral mengandaikan pemenuhan tuntutan hukum, keduanya tidak dapat disamakan begitu saja. Kenyataan yang paling jelas membuktikan hal itu adalah terjadinya konflik antara keduanya. Moral jelas membutuhkan hukum. Moral akan menjadi sesuatu yang semu dan abstrak belaka bila tidak diejawantahkan dalam hukum. Maka, dalam menerapkan hukum moral, perlu juga dilegalisasikan dalam hukum formal. Sisi inilah yang sebaiknya diterapkan di Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s