(MASIHKAH INGAT) PELAJARAN DARI SI CODET

“Aman di Bali” adalah slogan yang dulu sering terdengar ketika di luar bali ada berita mengenai kriminalitas dan kerusuhan. Tetapi keamanan Bali pernah kembali terusik oleh perbuatan Mochamad Davis Suharto alias Si Codet yang dhukum telah melakukan pemerkosaan terhadap siswi Sekolah Dasar (SD) di Bali.

Banyak pihak yang mengecam perbuatan si Codet bahkan semua kalangan dipusingkan dan memutar otak untuk mencari solusi dengan mengadakan diskusi, menambah jumlah personel keamanan dan tindakan lainnya guna mencegah tindak kekerasan terhadap anak, tetapi setelah begitu banyak peristiwa yang mengganggu keamanan di Bali, termasuk yang paling tragis yaitu dengan korban anak kecil, sudahkah semua pihak mengambil pelajaran dari kasus Si Codet ini agar kasus ini menjadi kasus yang terakhir?

Siswi Sekolah Dasar kelas V dan kelas VI biasanya sudah bisa pulang sendiri dengan kemampuan untuk mengingat jalan pulang telah dimiliki. Sedangkan Orang tua yang sibuk terkadang “membiarkan” anaknya untuk pulang sendiri ketika mereka tidak punya waktu untuk menjemputnya. Kenyataannya, dewasa ini perhatian orang tua terhadap anaknya telah teralihkan dengan kepentingan ekonomi keluarganya, sehingga waktu yang diluangkan bagi anaknya menjadi tersita dengan waktu untuk mencari uang bagi anaknya. Padahal, memberi perhatian terhadap anak tidak semata-mata dengan cara memberi uang, menyekolahkannya, dan membiarkan anak bermain dengan sendirinya tetapi juga memberikan bekal budi pekerti, pengetahuan, nasehat orang tua, dan canda tawa khas keluarga yang bahagia dan harmonis. Inilah bagian penting bagi pendidikan anak dari orang tua.

Sering kali ketika menghadapi masalah yang korbannya adalah anak, argumentasi pemecahannya adalah mengingatkan orang tua agar lebih memperhatikan anaknya. Hanya saja dapat disikapi bahwa seakan-akan orang tua sekarang tidak memiliki perhatian terhadap anaknya padahal tugas pokok orang tua adalah memberi perhatian kepada anak agar tumbuh menjadi dewasa seperti apa adanya. Tetapi argumentasi ini patut dikaji lebih dalam lagi, sebab mengingatkan peran pokok orang tua seperti itu sebenarnya tidak perlu terlalu sangat untuk dikeluarkan karena bagaimanapun sebagai orang tua pasti sudah melakukannya, hanya saja yang perlu pula diingatkan kepada orang tua adalah bahwa mereka juga bagian dari masyarakat yang ikut bertanggung jawab terhadap kehidupan anak lainnya. Hal inilah yang sering kali terlupakan, ketika bukan anak sendiri yang bermasalah, masyarakat sering tidak memberikan perhatian yang lebih terhadap permasalahan yang terjadi. Hal ini dapat dilihat di depan sekolah dasar yang ketika jam pulang orang tua murid lebih memperhatikan anaknya, sehingga ketika ada anak lain yang belum pulang mereka tidak tahu.

Kunci dari pencegahan tindak kekerasan terhadap anak adalah komunikasi. Setiap orang tua adalah harus sering melakukan komunikasi dengan anaknya. Pendapat anak harus diperhatikan oleh orang tua, memeluk anak atau mencium tangan orang tua adalah salah satu bentuk komunikasi dalam keluarga. Keinginan untuk bercerita dari seorang anak diawali dengan komunikasi yang baik. Hanya saja komunikasi dalam lingkungan keluarga sangatlah kecil jika dibandingkan lingkungan mayarakat sebab tidak bisa setiap saat keluarga (orang tua) bisa mendampingi anaknya maka yang dimaksud komunikasi adalah komunikasi anak dengan setiap orang didekatnya mengenai apa yang ia rasakan.

 

Intrumen hukum dan aktor pemberi perlindungan anak

Kasus Si Codet sekarang ini memberi tamparan keras kepada seluruh kalangan termasuk penegak hukum dan pemerhati anak. Hal ini membuktikan bahwa instrumen hukum baik peraturan perundang-undangannya maupun aktor pemberi perlindungan anak belum maksimal untuk menjamin perlindungan terhadap anak. Sebaiknya semua pihak dapat untuk berintropeksi diri kembali mengenai apa yang terjadi, dan apa yang dilakukan baik yang telah dilakukan, yang sedang dilakukan dan yang akan dilakukan. Sehingga nantinya dapat ditemukan solusi yang dapat mencegah kekerasan terhadap anak baik dilihat dari sudut instrument hukum dan aktor pemberi perlindungan anak.

Instrumen hukum yang menjamin perlindungan anak masih perlu dikaji lagi. Dalam Pasal 4 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak dikemukakan bahwa  Setiap anak berhak untuk dapat hidup, tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi secara wajar sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi. Namun fakta yang terjadi, tindak pidana terhadap anak atau anak yang menjadi korban, hukuman yang diberikan kepada pelaku masihlah terlalu ringan dan sering mengabaikan rasa keadilan. Bagaimana tidak, hasil kejahatan yang ditanggung seumur hidup oleh seorang anak hanya ditebus beberapa tahun oleh pelaku. Bukankah sangat ironis menyaksikan seorang anak kecil menderita sampai tua akibat perlakuan jahat, walaupun secara psikis masih perlu dibuktikan dengan perlakuannya disaat dewasa. Tetapi apabila hal ini tidak dicegah lebih awal bisa saja anak yang sekarang menjadi korban akan menjadi pelaku di masa depan. Memang terkadang anak tidak tahu ia menjadi korban atau orang tuanya saja yang pusing melihat anaknya menjadi korban, tidakkah penjahat juga kalau manusia hanya menonton tanpa melakukan tindakan?.

Sekarang dalam pengadilan anak saja masih terjadi diskriminasi dan ketidakadilan bagi anak. Jika anak nakal  melakukan tindak pidana maka ia patut diproses secara pidana. Hanya saja proses peradilan yang didapatkan untuk saat ini sangat tidak sesuai dengan UU perlindungan anak dan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1997 tentang Pengadilan Anak. Ketimpangannya antara lain saat anak yang menjadi korban seharusnya dimintai keterangan dengan pakaian bebas tetapi petugas saja bisa meminta keterangan dengan memakai baju dinas, bisa dibayangkan kalau korban yang sudah menderita harus bertemu dengan kepolisian. Jangan berharap terlalu banyak untuk mendapat keterangan dari anak yang tertekan mentalnya. Ketika anak melakukan tindak pidanapun, ia sering kali digabung dengan orang dewasa apabila ditahan. Belum lagi masalah peralatan bagi tahanan anak yang sangat tidak memadai bisa saja ini cikal bakal kejahatan seorang anak untuk melakukan kejahatan terhadap temannya apabila dari sisi peembinaan anak nakal saja masih bermasalah.

Kejahatan terhadap anak bukan saja dapat dilakukan oleh orang dewasa yang bukan keluarganya tetapi juga bisa orang tua atau keluarganya, bahkan temannya sendiri. Untuk itu anak yang menjadi korban wajib diberikan perlindungan secara instesif oleh aktor pemberi perlindungan anak. Jadi kewenangan untuk menlindungi anak tidak hanya terdapat pada kepolisian, satpam sekolah, atau petugas keamanan lainnya, tetapi segala pihak yang mempunyai tanggung jawab kepada anak baik moril maupun secara formil. Hal inilah yang wajib dikatakan sebagai aktor pemberi perlindungan anak. Kesiapan aktor pemberi perlndungan anak ini yang masih patut untuk dipertanyakan, karena biasanya bimbingan melindungi anak itu hanya diberikan kepada orang tua saja sedangkan masyarakat umum jarang dilatih untuk memperhatikan anak dilingkungannya.

Untuk pelajaran bagi seluruh pihak agar tidak terjadi lagi korban anak yang serupa atau mirip dengan kasus Si Codet maka diperlukan perbaikan intrumen hukum dan aktor pemberi perlindungan anak. Seluruh kalangan baik anak, orang tua, masyarakat, guru bahkan pelaku wajib diberikan bimbingan dan pelatihan agar tanggap dalam pemberian perlindungan kepada anak agar tindak kejahatan terhadap anak dapat dicegah. Disamping itu, kepedulian semua pihak wajib ditingkatkan tidak saja kepada anak kandung tetapi juga terhadap anak orang lain yang berada pada lingkungannya, dengan tujuan masyarakat dapat bertindak tegas dan benar demi mencegah tindak kekerasan terhadap anak.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s