IBNU DULU, DAN KERUKUNAN UMAT BERAGAMA DI BALI

Hari raya Nyepi umat Hindu di Bali beberapa tahun lalu telah dibuat heboh oleh sebuah status di facebook yang dibuat oleh seseorang yang bernama Ibnu Rachal Farhansyah  yang menyatakan “Nyepi sepi sehari kaya t**”.

Perkataan ini memicu protes dari para facebooker yang membaca status tersebut bahkan ancaman, hujatan serta kecaman telah datang dari ribuan orang yang sebagian besar beragama Hindu serta orang Bali pada umumnya. Grup facebook yang mengecam bahkan hendak mengusir Ibnu dari Bali pun telah bermunculan. Tentunya semua kalangan ikut memperhatikan masalah ini, termasuk organisasi yang dibuat untuk kerukunan umat beragama yang menyatakan bahwa pernyataan yang dibuat Ibnu adalah salah satu bentuk pelecehan terhadap agama Hindu bahkan Ibnu telah dilaporkan ke pihak yang berwajib tanpa mengkaji terlebih dahulu solusi terbaik lainnya. Untuk itulah masalah ini terus bergulir sehingga memunculkan pro dan kontra dan menimbulkan masalah bagi kerukunan antar umat beragama di Bali.

Masalah mengisi status di facebook adalah lumrah bahwa yang tertulis di status tersebut adalah apa yang dipikirkan dan dirasakan. Dengan adanya pemikiran bahwa Nyepi adalah hari yang membosankan dan menjijikkan bagi Ibnu pada saat menulis statusnya maka secara subyektif Ibnu merasakan kebosanan selama satu hari itu dalam menjalani hari raya yang tidak seagama dengannya. Mengenai perasaan itu, ada baiknya kita maklum bagi seorang Ibnu, yang tidak biasa dengan keadaan yang benar-benar ekstrem baginya dan sangat berbeda dengan nuansa yang dirasakan sebelumnya. Hanya saja suatu perasaan masihlah bersifat abstrak dan ketika diwujudkan secara konkret berupa tulisan, maka tidak lagi bersifat abstrak dan tentunya tulisan yang konkret ini berisi kata-kata yang menyinggung dan menyakiti akan direspon juga oleh pihak yang membaca.

Sebenarnya masalah mengemukakan pendapat di facebook adalah hal yang tidak melanggar hukum kalau tidak menistakan  pihak lain. Yang menjadi permasalahan adalah ketika Ibnu menuliskan pendapat mengenai apa yang dirasakan dan apa yang dipikirkan. Ia tidak memikirkan mengenai batasan-batasan yang harus diperhatikan ketika menuliskan kata-katanya. Batasan tersebut berupa penghormatan hak-hak seseorang termasuk penghormatan hak beribadah umat lain dengan cara tidak menjelek-jelekkan hari raya umat lain atau hak orang lain untuk meyakini upacaranya. Menghormati Hari Raya agama lain adalah hal yang mutlak dan wajib dilakukan mengingat kegiatan mengemukakan pendapat adalah hak setiap warga Negara sebatas hak tersebut juga tidak bertentangan dengan hak orang lain. Kalau saja dapat diperhatikan batasan hak ini, mungkin saja masalah pelanggaran dalam mengemukakan pendapat tidak akan terjadi. Dengan demikian, suatu wadah publik yang bisa dijadikan sebagai perantara dalam berkata-kata atau mengemukakan pendapat harus digunakan secara baik dan benar serta bijak mengingat sarana publik tidak hanya berada dalam pikiran pribadi saja tetapi menyangkut kepentingan mayarakat umum juga.

Masyarakat yang mengetahui status Ibnu di facebook tersebut tentu saja bereaksi keras terhadap status yang telah dibuat tersebut secara emosional dikeluarkan karena sebagai respon terhadap keyakinan yang dimiliki telah dilecehkan oleh Ibnu. Adalah hal yang wajar jika apa yang kita yakini (believe) apalagi masalah agama yang merupakan masalah yang riskan dilecehkan oleh pihak lain, maka tentunya akan bela dan dijaga bahkan rela berkorban nyawa sekalipun (puputan). Hanya saja apabila dikritisi lebih lanjut, sikap yang berlebihan dalam pengungkapan perasaan yang marah terhadap pelecehan tersebut tiada lain adalah sikap emosional yang berlebihan. Masyarakat yang marah, sebenarnya telah terpancing oleh hal-hal dari luar dirinya guna menimbulkan sisi negatif dalam diri. Status Ibnu hanya merupakan alat untuk memancing makian, amarah, kecaman dan ancaman dari umat Hindu Bali, dalam agama Hindu sifat ini disebut Krodha (amarah) yang merupakan salah satu bagian dari Sadripu. Jadi sebagai umat Hindu Bali sebaiknya juga hati-hati dalam menyikapi karena apabila salah menyikapi bisa membuat umat terpancing dan ikut dalam sifat amarah (krodha). Apalagi kecaman tersebut dilakukan pada saat Nyepi, tentu saja sangat dipertanyakan rasa relegius umat dalam menjalani Hari raya Nyepi.

Dari sudut pandang hukum, menurut Undang-Undang Nomor 1/PNPS/1965 tentang Pencegahan Penodaan Agama, perbuatan Ibnu bisa saja dikategorikan sebagai penistaan, sebab hari raya Nyepi juga adalah simbol dari agama Hindu sebagai hari raya yang disucikan. Apabila hari raya yang disucikan tersebut dihina yang oleh Ibnu dengan menyebutkan sebagai sesuatu yang kotor, maka perbuatan tersebut dapat dikatakan sebagai penistaan. Apalagi jika dikaitkan dengan Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik, Ibnu dapat diduga menghina melalui facebook. Hanya saja yang perlu diingat, setelah statusnya dicerca dengan berbagai komentar yang menyalahkannya, Ibnu segera meminta maaf dan mengakui kesalahannya. Dengan adanya permintaan maaf dari Ibnu maka sebenarnya terlihat bahwa Ibnu sadar akan kesalahannya dan ingin memperbaikinya. Namun, dengan adanya upaya untuk menyelesaikan masalah ini ke jalur hukum, seakan-akan permintaan maaf dan penyesalan Ibnu seperti tidak ada artinya.

Bagi pihak yang ingin memidanakan Ibnu, pemecahan masalah penistaan agama yang dilakukan Ibnu adalah memenjarakannya, namun jika penyelesaian melalui jalur pemidanaan dilakukan pemidanaan belum tentu masalah pokok berupa penistaan agama akan selesai walau ajang pembalasan dendam berupa pemidanaan telah dilakukan. Perlu diketahui bahwa pemidanaan adalah upaya terakhir dalam penghukuman suatu perbuatan pidana (ultimum remedium). Jadi pemidanaan terhadap Ibnu sebaiknya dikaji lagi, demi menemukan solusi terbaik dalam memberikan sanksi bagi Ibnu dalam mempertanggungjawabkan perbuatannya.

Memang Negara kita sedang dilanda masalah pluralisme, sehingga masalah Ibnu adalah masalah sensitif bagi kalangan orang yang beragama Hindu. Penistaan bagi agama Hindu yang dirasakan kali ini bukanlah penistaan yang pertama bagi umat Hindu di Bali. Tetapi bisa saja masalah ini adalah bisa saja menjadi ”gerbang” dari masalah penghinaan agama yang akan muncul lagi nantinya, sehingga penyelesaian masalah penghinaan agama akan terus berkelanjutan. Kalau kali ini melalui jalur hukum maka untuk masalah selanjutnya bisa saja terus menerus melalui jalur hukum. Tetapi penyelesaian melalui jalur hukum sekarang sebenarnya juga adalah ”gerbang” bagi penyelesaian kasus penistaan agama selanjutnya yang bersifat emosional dan terlalu normatif. Tak bisa dibayangkan kalau setiap penyelesaian penistaan agama akan selalu ditempuh melalui jalur hukum, bangsa ini akan semakin terpuruk dalam permasalahan antar agama yang bisa menimbulkan disintegrasi bangsa dan bhineka tunggal ika akan menjadi slogan saja.

Oleh karena itu, sebaiknya semua pihak berpikir bijak dalam menghadapi permasalahan ini dan menjadikannya sebagai pelajaran bagi kerukunan umat beragama di Bali selanjutnya. Jika kata maaf tidak ada bagi Ibnu maka tidaklah perlu untuk dimaafkan. Tetapi pemidanaanpun adalah cara yang perlu dikoreksi lagi karena pemidanaan bisa menimbulkan dendam. Bagi kerukunan hidup beragama di Bali, permasalahan saling menista agama adalah awal dari rusaknya sikap bertoleransi beragama. Maka untuk mengatasi hal tersebut perlu dilakukan pembinaan kembali bagi semua orang secara intensif mengenai Tri Kerukunan Umat Beragama berupa kerukunan intern umat beragama, kerukunan antar umat beragama, serta kerukunan antara umat bergama dengan pemerintah berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s