DIDUGA MELAKUKAN PEMAKSAAN CAP JEMPOL, INVESTOR PERDAYAI KAKEK TUA

Polresta Denpasar kemarin dikejutkan dengan warga desa Padang Sambian Kelod yang mengiringi seorang nenek tua untuk melaporkan seorang pengusaha. Seolah cerita investor melawan rakyat jelata kembali terjadi di, hanya demi menjalankan bisnisnya, pengusaha bangunan bernama I WAYAN SINDHU diduga telah melakukan perbuatan tidak menyenangkan berupa pemaksaan cap jempol di atas kwitansi terhadap pasangan orang tua renta I WAYAN RODI (80 Tahun) dan NI NYOMAN NGEMIN (76 Tahun).

14107626516981410143159294

Berawal dari adanya hubungan kontra k mengontrak tanah antara I WAYAN RODI, yang merupakan suami dari NI NYOMAN NGEMIN dengan I WAYAN SINDHU, dimana pada tanggal 1 Mei 2004, I Wayan Rodi pernah mengontrakkan tanahnya seluas 300 m2 selama 10 Tahun kepada I WAYAN SINDHU, dengan kesepakatan bahwa kontrak tersebut tidak akan ada perpanjangan dan I WAYAN SHINDU diminta segera mengosongkan kontrakan tersebut dalam waktu 1 bulan sebelum masa kontrak habis.

Tiba-tiba, sebelum masa kontrak tersebut habis tepatnya pada tanggal 9 Februari 2014, I WAYAN SHINDU beserta istri dan salah satu anaknya datang ke rumah I WAYAN RODI untuk membicarakan perpanjangan kontrak, namun ditolak oleh I WAYAN RODI karena disamping dari awal tidak akan diperpajang, I WAYAN RODI juga dalam keadaan tidak bisa bergerak karena penyakit Strook yang diidapnya selama bertahun-tahun.

Melihat keadaan I WAYAN RODI yang tidak berdaya, I WAYAN SHINDU yang dibantu oleh istrinya memanfaatkan keadaan tersebut dengan mengeluarkan kwitansi yang sudah dipersiapkan dan menarik tangan I WAYAN RODI lalu memaksa I WAYAN RODI membubuhkan cap Jempolnya diatas kwitansi tersebut.

Melihat suaminya dipaksa seperti itu ditambah, NI NYOMAN NGEMIN yang juga tidak bisa baca tulis, NI NYOMAN NGEMIN menyatakan keberatan atas tindakan yang dilakukan oleh I WAYAN SHINDU dan kemudian meminta I WAYAN SINDHU untuk menunggu keponakannya datang, namun bukannya menunggu, I WAYAN SHINDU malah meminta anak angkat I WAYAN RODI yaitu PUTU ANGGA ADI PRATAMA yang masih berumur 10 tahun, yang sedang bermain untuk menjadi saksi dan menanda tangani kwitansi tersebut. Melihat kejadian tersebut NI NYOMAN NGEMIN sudah melarang karena cucunya masih kecil akan tetapi I WAYAN SHINDU tetap menyuruh PUTU ANGGA ADI PRATAMA menanatangani kwitansi tersebut.

Setelah I WAYAN SHINDU memaksa I WAYAN RODI untuk membubuhkan cap jempol dalam kwitansi tersebut, I WAYAN SHINDU kemudian secara tergesa-gesa memberikan uang sebesar Rp. 120.000.000,- (Seratus ua Puluh Juta Rupiah) lalu meninggalkan I WAYAN RODI dan NI NYOMAN NGEMIN. NI NYOMAN NGEMIN yang sebenarnya menolak uang tersebut dan melihat Suaminya yang tidak berdaya berusaha mengejar I WAYAN SHINDU namun karena sudah tua akhirnya NI NYOMAN NGEMIN tidak dapat mengejar I WAYAN SINDHU lagi.

Pada keesokan harinya, NI NYOMAN NGEMIN menceritakan hal tersebut kepada keluarganya dan akhirnya NI NYOMAN NGEMIN dan keluarganya melaporkan hal tersebut kepada Kepala Desa. Setelah laporan tersebut, Kepala Desa kemudian memanggil I WAYAN SINDHU untuk datang dan menyelesaikan masalah tersebut tetapi I WAYAN SINDHU tidak pernah menyelesaikan permalahan, sampai akhirnya pada tanggal 8 agustus 2014, I WAYAN SINDHU yang didampingi kuasa hukumnya membuat kesepakatan bahwa apabila sampai pada tanggal 13 agustus 2014 tidak bisa menyelesaikan masalah tersebut I WAYAN SHINDU bersedia untuk menutup toko yang ada di atas tanah milik I WAYAN RODI.

Atas kesepakatan tersebut, pada tanggal 14 Agustus 2014 dan karena telah lewat waktu maka LPM, banjar adat dan aparat desa datang ke toko tersebut dengan menyampaikan agar I WAYAN SINDHU segera menutup toko tersebut. Dan melalui karyawannya sendiri I WAYAN SINDHU menutup toko tersebut.

Atas penutupan toko tersebut, bukannya menyelesaikan permasalahan, I WAYAN SINDHU malah melaporkan hal tersebut ke kantor kepolisian Resor Kota Denpasar. Akibat prilaku I WAYAN SINDHU yang telah memaksa orang tua untuk membubuhkan cap jempol, dan melecehkan desa dengan melaporkan kepala desa karena penutupan toko, warga desa adat Padang sambian kelod menjadi geram dan kesal atas perilaku I WAYAN SINDHU tersebut, ditambah dengan track record I WAYAN SINDHU yang ternyata terkenal telah berulang kali terlibat bebagai masalah dengan warga desa setempat yang modusnya hampir sama yaitu masalah kontrak tanah.

Dengan melihat keadaan I WAYAN RODI yang sakit, NI NYOMAN NGEMIN yang buta huruf dan cucunya yang masih kecil, I WAYAN SINDHU sebagai pengusaha dengan modal uang yang melimpah telah tega menghalalkan segala cara hanya untuk menjalankan bisnisnya hingga memaksa orang tua yang sudah tidak berdaya untuk membubuhkan cap jempolnya. NI NYOMAN NGEMIN yang tidak terima atas perlakuan I WAYAN SINDHU kemudian disertai warga desa adat Padang Sambian Kelod “nglurug” POLRESTA Denpasar untuk melaporkan I WAYAN SINDHU atas dugaan perbuatan kejahatan terhadap kebebasan orang, sebagaimana diatur dalam Pasal 335 KUHP. Didampingi Pengacaranya, I MADE SUARDANA, SH, MH, I GM NURTJAHJADI, SH dan I MADE SOMYA PUTRA, SH dalam pelaporan tersebut, NI NYOMAN NYEMIN juga diiringi oleh Kepala Desa Padang Sambian Kelod I Gede Wijaya, Ketua LPM Padang Sambian Kelod Ida Bagus Kompyang, S.Sos, Kepala Dusun I Nyoman Suyasa dan seorang Anggota DPRD Kota Denpasar I Nyoman Tananjaya.

Pengacara korban I MADE SOMYA PUTRA, SH menyatakan sangat menyayangkan perbuatan I WAYAN SINDHU yang menghalalkan segala cara untuk menjalankan bisnisnya “ saya menyayangkan tindakan Pengusaha ini yang menjalankan bisnis dengan mengorbankan orang lain, apalagi terdapat Kejanggalan dalam pembuatan kontrak yang dibuat oleh I WAYAN SINDHU yang dikenal juga sebagai investor ini, yang ternyata masih menggunakan pipil padahal tanah tersebut sudah bersertifikat, dan keanehan pen-cap jempol tersebut adalah melibatkan anak di bawah umur (10 tahun) yang sebenarnya belum cakap dalam melakukan perbuatan hukum. Sebuah kontrak dibuat ketika orangnya sedang sakit, dan saksi masih dibawah umur, inimkan konyol” ujar advokat yang dikenal vocal ini.

Setelah ditelusuri ternyata terdapat kejanggalan – kejanggalan lain dalam kwitansi tersebut, dimana ternyata kwitansi tersebut tidak dilengkapi dengan materai yang memperlihatkan pembuatannya juga terlalu tergesa-gesa. I WAYAN RODI maupun NI NYOMAN NGEMIN sama sekali tidak mengerti apa maksud kwitansi yang di buat oleh I WAYAN SINDHU karena jelas-jelas tanah yang dahulunya dikontrakkan oleh I WAYAN RODI adalah seluas 300 m2 dari luas seluruhnya adalah seluas 1.000 m2 sedangkan dalam kwitansi tersebut I WAYAN SHINDU menyebutkan I WAYAN SINDHU mengontrak tanah I WAYAN RODI seluas 5,5 are. Selain itu, I WAYAN SINDHU menghargai tanah milik I WAYAN RODI yang dekat dengan jalan seharga 1 jutaan, padahal harga sewa tanah yang dekat jalan adalah sekitar 15 juta. Sehingga harga kontrak yang dibuat oleh I WAYAN SINDHU sangat merugikan I WAYAN RODI “saya khawatir kejanggalan-kejanggalan tersebut membuktikan adanya rekayasa, bahwa I WAYAN SINDHU ingin menguasai tanah klien saya, hal ini terbukti dari sppt yang ternyata sudah atas nama I WAYAN SINDHU” ujar I MADE SOMYA PUTRA, SH

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s