POLDA BALI DIDESAK TAHAN TERSANGKA NOTARIS DARMAYUDA

Setelah menetapkan NOTARIS & PPAT I WAYAN GEDE DARMA YUDA, SH., M.KN sebagai Tersangka berdasarkan Surat Pemberitahuan Perkembangan Hasil Penyidikan (SP2HP) Nomor : B/720/X/2014/Dit.Reskrim, tertanggal 3 Oktober 2014, POLDA BALI didesak untuk menahan Tersangka Darmayuda. Desakan atas penahanan tersangka Notaris Darmayuda disampaikan oleh Kuasa Hukum KORBAN ANTONY KRISTIAN LISMANTO, I MADE SUARDANA, SH, MH dan I MADE SOMYA PUTRA, SH

IMG-20141119-WA0003
Bagi KORBAN ANTONY KRISTIAN LISMANTO, penahanan bagi NOTARIS DARMAYUDA sangat layak dilakukan karena telah diketemukannya cukup bukti atas rangkaian perbuatan Notaris Darmayudha tersebut, disamping atas kemampuan DARMAYUDA yang dapat mengulangi tindak pidana, hal ini dapat dilihat dari Notaris Darma Yuda yang masih menjalankan profesinya sebagai notaris padahal informasinya Notaris Darmayuda juga telah menjadi Terlapor di daerah lain selain dari wilayah POLDA BALI.

Desakan terhadap POLDA BALI tidak hanya dilakukan secara lisan tetapi juga dilakukan secara resmi melalui surat baik ke KAPOLDA BALI, maupun lembaga Eksekutif dan Lembaga legislative. Sehingga saat ini Perkara tersebut telah menjadi perhatian lembaga beberapa instansi seperti OMBUDMANS RI, KEPADA DIVISI PROFESI DAN PENGAMANAN POLRI dan KOMNAS HAM, namun Penyidik seolah telah menutup mata dan telinganya dengan alasan Tersangka NOTARIS & PPAT I WAYAN GEDE DARMA YUDA, SH., M.KN kooperatif dalam pemeriksaan. “ kooperatif gimana??, Polisi sendiri ngaku dia tidak datang diperiksa pada tanggal 9 oktober 2014, penyidik sendiri ditipu dengan pernyataan permohonan maaf dan bertanggung jawab atas kerugian yang ada tetapi nyatanya tidak ada tanggung jawabnya, maka saya nilai alasan penyidik terlalu mengada-ada” ujar Advokat I MADE SOMYA PUTRA, SH yang juga Ketua Litbang Lembaga Advokasi Dan Bantuan Hukum Indonesia (LABHI)-Bali ini.
Geramnya KORBAN ANTONY KRISTIAN LISMANTO atas tidak ditahannya tersangka NOTARIS & PPAT I WAYAN GEDE DARMA YUDA, SH., M.KN, bukanlah tanpa alasan. Pasalnya selain Proses penanganan kasus tersebut yang sudah memakan waktu lebih dari 15 (lima Belas) Bulan lamanya, dengan kerugian yang sangat besar mencapai Rp 700.000.000,- ( Ratus Juta Rupiah), NOTARIS & PPAT I WAYAN GEDE DARMA YUDA, SH, M.Kn dianggap sudah terlihat jelas dan nyata telah memiliki itikad yang tidak baik dengan mengingkari surat-surat yang dibuatnya sendiri, berupa Surat Notaris & PPAT I Wayan Gede Darma Yuda, SH., M.KN Tertanggal 4 September 2013, Surat Kesepakatan Bersama Antara Notaris & PPAT I Wayan Gede Darma Yuda, SH., M.KN Dengan I Wayan Arya Widiasa, Tertanggal 31 Agustus 2013 dan Pernyataan Perdamaian antara ANTONY KRISTIAN LISMANTO dengan NOTARIS & PPAT I WAYAN GEDE DARMA YUDA, SH, tertanggal 17 Oktober 2013. Disamping itu, Tersangka NOTARIS & PPAT I WAYAN GEDE DARMA YUDA, SH, M.Kn ternyata juga telah berulang kali mentraksaksikan obyek yang sama dengan yang dibeli oleh Korban Antony Kristian Lismanto kepada pihak lain.
I MADE SUARDANA, SH, MH mengharapkan Penyidik POLDA BALI menyeret pelaku memudian menjebloskannya ke terali besi POLDA BALI. “klien kami sudah bersabar lebih dari 1 tahun untuk menunggu keadilan dan kami nilai bahwa POLDA BALI dalam menangani kasus ini lebih sulit daripada menangani kasus kejahatan luar biasa (extra ordinary crime) seperti Terorisme, Korupsi dan Narkoba, sehingga memakan waktu yang sangat lama hanya untuk menangani kasus penggelapan dan penipuan, untuk itu kami berharap aparat penegak hukum tidak melakukan rekayasa hukum, bertindak transfaran, independen dan tidak terpengaruh dalam bentuk materi apapun atau tidak terjebak pada intervensi apapun dari pihak manapun, yang menyebabkan tergangunya kredibilitas dan integritas Kepolisian termasuk Kepala Kejaksaan Tinggi Bali dalam proses hukum tersebut” ungkap I MADE SUARDANA, SH, MH yang juga Mantan Ketua IKADIN Denpasar ini.

Peristiwa ini berawal dari adanya perjanjian jual beli tanah seluas 10 Are, berdasarkan Akta Perjanjian Jual Beli Nomor 43 A, tertanggal 27 Desember 2012 di Notaris I Wayan Gede Darma Yuda, SH, M.Kn, dimana Antony Cristian Lismanto sebagai pembeli dan Alm. I Wayan Dariyana sebagai penjual. Atas adanya Akta Perjanjian itu dan untuk merealisasikan jual beli tanah tersebut, Antony Kristian Lismanto akhirnya telah membayar uang muka sebesar Rp. 500.000.000 (Lima Ratus Juta Rupiah) yang kemudian dititipkan melalui Notaris I Wayan Gede Darma Yuda, SH, M.Kn dan sisanya akan dibayarkan pada saat sertifikat Hak Milik telah terbit. Namun ternyata sertifikat Hak Milik tanah tersebut tidak pernah terbit dan uang dititipkan di Notari Darmayudha tidak dikembalikan ke Antony Kristian Lismanto.

Akibat sikap Notaris I Wayan Gede Darma Yuda, SH, M.Kn dan Alm. I Wayan Dariyana yang tidak jelas dan mengada-ngada tersebut, Antony Kristian Lismanto merasa telah ditipu oleh I Wayan Dariyana dan uangnya telah digelapkan oleh Notaris I Wayan Gede Darma Yuda, SH, M.Kn , sehingga atas kejadian tersebut akhirnya Antony Kristian Lismanto melaporkan I Wayan dariyana dan Notaris I Wayan Gede Darma Yuda, SH, M.Kn ke Polda Bali atas dugaan tindak pidana penipuan dan atau penggelapan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 378 KUHP dan Atau Pasal 372 KUHP sesuai dengan Surat Tanda Bukti Laporan Nomor : TBL/484/VII/2013/SPKT POLDA BALI, tertanggal 28 Agustus 2013.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s