KOMNAS HAM RI AKHIRNYA TURUN TANGAN : TERHADAP KASUS KAKEK TUA MELAWAN PENGUSAHA

Komisi Nasional Hak Asasi Manusia Republik Indonesia (KOMNASHAM RI) akhirnya memberikan atensi terhadap perkara yang melibatkan I Wayan Rodi (81 tahun) sebagai korban dalam tindak pidana pemaksaan cap jempol kwitansi dan perusakan bangunan miliknya yang diduga dilakukan oleh I Wayan Shindu (69 tahun), sebagaimana laporan polisi Nomor LP : LP/758/IX/2014/Bali/Resta Dps, tanggal 8 September 2014 dan LP/871/X/2014/Bali/Resta Dps, tanggal 10 Oktober 2014.

Kepastian Adanya atensi dari KOMNASHAM RI terhadap kasus yang menimpa I Wayan Rodi seorang kakek tua yang sedang sakit stroke diperoleh setelah I Wayan Rodi melalui kuasa hukumnya memperoleh surat dari Subkomisi Pemantauan dan Penyelidikan KOMNASHAM RI dengan nomor : 2.938/K/PMT/VIII/2015, perihal tanggapan penanganan perkara a.n Sdri. Ni Nyoman Ngemin, yang intinya menyatakan bahwa Kapolda Bali menyampaikan telah dilakukannya penyelidikan terhadap Laporan Polisi Nomor LP/758/IX/2014/Bali/Resta Dps dan Laporan Polisi Nomor LP/871/X/2014/Bali/Resta Dps. KOMNASHAM RI meminta kuasa hukum dari pelapor dan korban untuk memperlajari dan memberikan tanggapan atas penjelasan dari Kapolda Bali tersebut.

Menanggapi surat dari KOMNASHAM RI, Lembaga Advokasi dan Bantuan Hukum Indonesia (LABHI)-Bali mengirim surat tanggapan Kepada KOMNASHAM RI dengan Nomor : 23/LABHI-BALI/ADVOKAT/VIII/2015 yang berisi ucapan penghargaan dan apresiasi setinggi-tingginya kepada KOMNASHAM RI dalam pemantauannya terhadap kasus ini, agar memberikan perlindungan hukum kepada I Wayan Rodi dan Ni Nyoman Ngemin agar penyidikan yang dilakukan oleh penyidik Polresta Denpasar dilakukan secara independen dan tidak diintervensi oleh terlapor I Wayan Shindu yang dapat mempengaruhi keputusan/penetapan yang akan dikeluarkan oleh Polresta Denpasar. Dan kepada KaPolresta Denpasar agar reserse kriminal Polresta Denpasar dapat menetapkan I Wayan Shindu sebagai tersangka, melakukan penahan agar terciptanya kepercayaan dalam penanganan perkara ini dan penyidik Polresta Denpasar dalam menjalankan tugasnya tetap konsisten dalam penegakan hukum dan tidak terintervensi oleh terlapor I Wayan Shindu.

Direktur Lembaga Advokasi dan Bantuan Hukum Indonesia (LABHI)-Bali yang sekaligus sebagai kuasa hukum dari I Wayan Rodi, I Made Suardana, SH.,MH dengan tegas menyampaikan agar penyidik bekerja dengan profesional dan konsisten agar tidak terpengaruh oleh intervensi dari pihak lain dan segera menetapkan I Wayan Shindu sebagai tersangka serta melakukan penahanan agar terciptanya kepercayaan dalam penanganan perkara ini. Beliau juga meminta KOMNASHAM RI agar memberikan perlindungan hukum kepada I Wayan Rodi. “Saya meminta penyidik Polresta Denpasar bersikap obyektif, profesional, konsisten dan tidak terintervensi oleh pihak lain serta segera menetapkan I Wayan Shindu sebagai tersangka.” “Saya sangat mengapresiasi setinggi-tingginya kepada KOMNASHAM RI dalam pemantauannya terhadap kasus ini dan juga meminta agara KOMNASHAM RI memberikan perlindungan hukum kepada klien kami agar penyidikan yang dilakukan penyidik berjalan secara independen dan tidak diintervensi oleh pihak I Wayan Shindu yang dapat mempengaruhi keputusan/penetapan yang akan dikeluarkan oleh Polresta Denpasar.” Salah satu tim kuasa hukum pelapor I Made Somya Putra, SH.,MH menyatakan seharusnya penyidik sudah bisa menetapkan I Wayan Shindu sebagai tersangka. “Menurut kami, alat bukti sudah cukup untuk menetapkan I Wayan Shindu sebagai tersangka. Untuk itu penyidik tak perlu ragu lagi dalam menetapkan status tersangka pada I Wayan Shindu.” Ujarnya.

Untuk mengingatkan, Kasus ini bermula dari adanya kontrak mengontrak tanah I WAYAN RODI dengan I WAYAN SHINDU, dimana sebelum masa kontrak berakhir, tiba-tiba I WAYAN SHINDU beserta istri dan anaknya datang ke rumah I WAYAN RODI untuk membicarakan mengenai perpanjangan kontrak tanah milik I WAYAN RODI. Namun, I WAYAN RODI dengan tegas menolak perpanjangan kontrak tersebut, dan pada saat itu I WAYAN RODI juga dalam keadaan tidak bisa bergerak karena penyakit Strooke yang diidapnya selama bertahun-tahun namun I WAYAN SHINDU memaksa I WAYAN RODI untuk melakukan cap jempol pada kwitansi yang sudah disiapkan. Tidak terima atas perlakuan tersebut, I Wayan Rodi dan Istrinya akhirnya melaporkan I Wayan Shindu ke Polresta Denpasar dengan dugaan pemaksaan pencapjempolan kwitansi sebagaimana Surat Tanda Penerimaan Laporan/Pengaduan Nomor : STPL/758/IX/2014/BALI/RESTA DPS, tertanggal 8 September 2014). Dalam perkembanganya bukannya menyelesaikan masalah, I Wayan Shindu malah merusak bangunan milik I Wayan Rodi, atas hal tersebut Istri I Wayan Rodi, Ni Nyoman Ngemin yang tidak terima atas perlakuan I Wayan Shindu akhirnya melaporkan I Wayan Shindu atas dugaan Tindak Pidana Pengerusakan Secara Bersama-sama sebagaimana dimaksud dalam Pasal 170 KUHP sesuai dengan Surat Tanda Penerimaan Laporan/Pengaduan Nomor : STPL/871/X/2014/BALI/RESTA DPS, tertanggal 10 Oktober 2014(ypm)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s