Bukti Faktual Puncak Penulisan adalah pusat hubungan Internasional Bali kuno

Sebelumnya penulis “nunas patut” kehadapan Ida Bhatara, karena sesungguhnya hanya Ida Bhatara yang Maha Tahu.

Ada beberapa hal yang hendak penulis sajikan sebagai bukti fakta yang masih dilihat secara kasat mata dan keyakinan bahwa Penulisan adalah pusat peradaban hubungan internasional pada Bali kuno.

1. Arkeologi :

Tentu peninggalan arkeologi tentang arca raja-raja kuno, tidak akan ditemui sebanyak di Pura penulisan, yang memperlihatkan bahwa raja-raja dulu memusatkan Parahyangannya di Pura Penulisan.

Penemuan stupa di Kubusalya, Sarkofagus di manikliyu, bagian dari gebok Domas penulisan tidak mampu dipungkiri kalau sebelumnya di penulisan adalah pusat peradaban.

Bahkan SRI GUNAPRIYA DARMAPATNI memilih DESA SERAI sebagai tempat pemakamannya.

2. Pusat Perdagangan Internasional.

a. Perdagangan dengan China.

Cerita Pertemuan Sri Aditya Jaya Pangus dengan Kang Cing Wie di Kuta Dalem (tempat yang masih ada saat saat ini) yang berarti Kota Kerajaan, di Pasar Kerajaan saat itu, sampai perjalanan cintanya yang membentuk Dalem Balingkang (Bali ing Kang/ Bali dan “Marga Kang”) telah membuktikan perdagangan dengan warga China pada saat itu.

Jangankan cerita dengan warga China, pekuburan terbesar China itu ada di Kutadalem,   fisik kuburan China di Batih masih ada, bahkan Orang China nya masih ada (disebut cina Batih). Jangan tanya tentang nama-nama China deh, terlalu banyak,, desa Pinggan artinya piring, desa lampu artinya Lampion, dll.

Di Pura Penulisan sendiri ada klenteng yang tidak disadari setiap odalan warga China sembahyang disana.

Belum lagi Pura Konco Pendem, dan Ratu Ayu Mas Sunandar yang ramai di Desa Batih dan Pura Balingkang.

Kalau disimak dari cerita camput bagia dan Ratu Daa Tua, Ratu Daa Tua yang mengajari perdagangan, arsitektur, upacara dll, maka membuktikan kebenaran pusat awal pis bolong (alat perdagangan), pengenalan arsitek China, dan bebantenan seperti masoda” (sodaan) bukankah hampir mirip dengan sesajen china?

2. Hubungan Perdagangan dengan Islam.


Mungkin tidak banyak yang sadar kalau di Pura Penulisan ada tempat yang buatkan khusus untuk orang Islam, Dimana para spritual menyebut sebagai stana Ratu Dalem Mekah?

Tapi kita dapat melihat fisik langsung hubungan penulisan dengan Islam yang sangat erat.


a. Di lontar catur darma kalawasan, disebutkan ” Ten Wenang Antuk Bawi’ jadi di penulisan tidak diperbolehkan ada babi.

b. Di Desa Sukawana orang-orang Desa sukawana biasa pakai sarung dalam kehidupan sehari-hari bahkan dalam kegiatan adat yang sangat jarang kebiasaan ini ditemui di desa yang lain. Sarung sebenarnya sering disebut sebagai budaya orang Jawa atau orang Islam tapi di desa sukawana juga dipraktekkan demikian.

c. Penyajian khusus makanan untuk “nyama selam”.

Di desa sukawana setiap ada kegiatan apapun baik adat maupun kekeluargaan selalu menyajikan makanan non babi yang terpisah dari makanan yang mengandung babi. Bagi orang yang tidak memakan makanan yang mengandung babi atau memilih makanan non babi maka ia disebut nyelam. Praktek demikian biasa di kalangan orang sukawana.

d. Kidung tuan Semeru dan kidung sunan Kalijaga yang mirip. Anda tidak akan percaya kidung sunan Kalijaga yang sering disebut kidung Nurekso Ing Wengi itu disadur dari kidung tuan Semeru. Yang mana kidung itu disajikan sebelum upacara di puncak penulisan diselenggarakan. Kidung itu seperti kidung penyambutan atau pemanggilan roh-roh atau kekuatan-kekuatan gaib yang hadir dalam upacara. Jika dimaknai lebih dalam kidung tersebut adalah upaya penyatuan roh-roh suci ke dalam atma Sarira (penunggalan kawula Gusti)

Jika melihat betapa dekatnya China dan Islam dengan Pura Puncak Penulisan, ditambah lagi kebiasaan-kebiasaan China dan Islam yang diterapkan dalam adat dan kehidupan sehari-hari, maka sebenarnya Islam dan China sudah menyatu dengan Masyarakat Desa Sukawana

d. Pasar Singhamandawa Kintamni sekarang sebelumnya ada di Banjar Kutadalem

Tidak banyak yang mengetahui kalau sebelum Pasar Singhamandawa yang ada di Kintamani sekarang ini sebelumnya ada di Banjar Kutadalem, Desa Sukawana Kecamatan Kintamani Bangli, sebab Kuta Dalem sebagai Ibu Kota Kerajaan singhamandawa sebelumnya adalah pusat perdagangan, memang catatan tertulis belum ditemukan tapi keberadaan pasar di Kutadalem yang dipindahkan ke kintamani terbukti dengan adanya Pura Pengrubungan atau pura Melanting di Banjar Kutadalem.

3. Pusat pendidikan agama dan aliran

Dalam prasasti sukawana A1 telah disebutkan kalau di penulisan adalah tempat para bhikkhu. Selain telah disajikan sebelumnya ada pemujaan untuk orang Cina dan Islam, maka lihat lagi apa yang ada di Penulisan, ada Pelinggih pujangga, di Kuum ada Sengguhu, di Pura Penimbangan ada Ratu ayu, ratu Niang dan Pasek Kubayan. Sehingga tidak dapat dipungkiri fakta kalau Pura Pucak Penulisan adalah Penataran Perdarmaan Bali Kuno bagi seluruh agama dan kepercayaan, sebelum pindahkan ke Besakih oleh Dalem Waturenggong.

4. Pusat Administrasi untuk hubungan kelembagaan.

Susunan pura di penulisan sangat jelas dalam urusan kewenangan kelembagaan, untuk adrimistrasi maupun hubungan antar lembaga dan pemerintahan. Yang dapat dilihat perwujudannya dari Pelinggih atau pura yang berfungsi masing-masing. Sebagaimana berikut :

a. Ratu Gede Penyarikan adalah manifestasi sebagai pencatatan. Secara Niskala Ida akan mencatat wilayah dan panjaknya sehingga tanah Bali meurip.

b. Ratu Dana adalah manifestasi sebagai bendahara.

c. Ratu daa tua, sebagai manifestasi pengurus dapur, memohon air sumur dan pendistribusian air (irigasi)

d. Ratu Cenayang, sebagai manifestasi urusan pertanian. Lihat video berikut : https://youtu.be/SVMvPKwUA4c

e. Ratu Sang Pasek, sebagai manifestasi urusan militer,

f. Ratu Pengrubungan, disebut juga Ratu Melanting, sebagai manifestasi pusat urusan  perdagangan.

g. Ratu Dalem Sengkuuk, sebagai manifestasi pusat urusan penguasa alam gaib.

h. Ratu Ngurah Balian, sebagai manifestasi pusat ahli pengobatan.

i. Ratu Kayuan sebagai manifestasi pusat distribusi Tirta yang tersebar di Seluruh penjuru mata angin.

Perlu tulisan khusus lagi yang membahas tentang kelembagaan sekala Niskala ini.

5. Stana Dewata Pegunungan.

Dalam lontar catur darma kalawasan, telah disebutkan bahwa Batukaru sampai Antap Ai, adalah tulang giing jagat Bali, artinya Dewata dari Gunung Batukaru sampai Gunung Antap Ai adalah bersaudara yang menyangga pulau Bali.

Secara ritual Antara Pura Batukaru dan Pura Penulisan memiliki hubungan yang sangat istimewa, dan kedekatan rasa hormat menghormati dan cinta yang sangat tinggi.

Belum lagi adanya pelinggih meru tumpang besik sebagai stana Ida Bhatara Gunung Agung dan Ida Bhatara Gunung Batur.

Betapa eratnya hubungan Kedewataan Para leluhur pegunungan di Pura Puncak Penulisan.

6. Pusat memohon Bala Bantuan militer dan kenegaraan.

Sebagai mana diketahui, wilayah pegunungan pulau Bali, tidak pernah ditaklukkan oleh Majapahit. Sehingga pada akhirnya, daerah Bali mula dan Bali aga, memiliki otonomi khusus dalam penyelenggaraan pemerintahan, upacara, spritualnya dan kemasyarakatan nya. Namun jarang yang mengamati kalau Pura Puncak Penulisan juga tempat hubungan militer yang erat. Yang dapat disajikan dalam beberapa fakta berikut :

a. Kisah anugrah pecut dan bedil ke Kiyai Jambe Pule dari Ratu Dewi Danu.

Dalam kisah lain sebagai geguritan Dalem Balingkang, Ratu Dewi Danu adalah Istri dari Sri Jaya Pangus.

Dalam legenda penjual air, Ratu Daa Tua yang juga diyakini adalah Ratu Dewi Danu menyamar sebagai penjual air yang berpenampilan buruk, legenda tersebut memperlihatkan Ratu Dewi Danu adalah predana dari Ratu Pucak penulisan yang berpusat di Bukit Panarajon.

Hubungan penganugrahan pecut dan bedil  “tulup dulu disebut bedil” ke Kiyai Jambe Pule pendiri Puri Pemecutan diwujudkan dengan adanya Pura Panarajon di sekitar Puri  Pemecutan. Selain panugrahan pusaka, Ida Bhatara Pucak penulisan membekali bala bantuan pasukan dari Keturunan Ki Tambyak untuk mengabdi di Puri Pemecutan. Ki Tambyak diyakini adalah anak biologis dari Raja di Panarajon, yang ditemukan di Batu Belah di Dalem Sengkuuk dan kemudian diasuh dan jadikan anak angkat oleh Jro Kubayan Kiwa, dimana kawitan Ki Tambyak saat ini berada di Banjar Jauh Desa Sukawana. Ki Tambyak yang mengabdi di Puri Pemecutan kemudian ditempatkan di Pecatu. Ki Tambyak juga di anugrahi Pusaka Golok dari Kubayan Kiwa, yang sampai saat ini pusaka golok tersebut wajib hadirkan dari Desa Pecatu untuk nebah jro gede (memotong kerbau) di setiap piodalan di Pura Penulisan.

b. Desa Tampekan di Kecamatan Banjar, Buleleng dari Desa Sukawana.

Sejarah Desa Tampekan mempercayai leluhurnya adalah darj Pasek yang kemudian berpindah ke Desa Sukawana, dan akhirnya membentuk Desa Tampekan di Banjar. Migrasinya penduduk pada saat itu diyakini. Karena adanya keperluan militer dimana dengan pitung kuren wit (7 keluarga),.leluhur orang sukawana mengirimkan bala bantuan militer untuk Panji Sakti dalam peperangan.

Tulisan ini adalah hasil pengamatan penulis yang masih perlu diperdalam, dan belum mewakili keseluruhan informasi yang ada.

Pos ini dipublikasikan di Tidak Dikategorikan. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s