Tahukah Anda kalau petani saat ini sedang menjerit?

Semenjak covid 19 ini merebak, keseharian saya lebih sering saya habiskan di kampung. DISANA MULAI SAYA MENGUBAH CARA SAYA BEKERJA DENGAN WORK AT HOME, SEHINGGA MULAI SAYA MENERIMA KLIEN, TAMU, SAHABAT, KELUARGA DI KAMPUNG HALAMAN, TERMASUK MENERIMA PARA PETANI CUMA SEKEDAR UNTUK BERCERITA.

Jika anda mengenal daerah yang namanya Kintamani selain pemandangannya yang indah : ada gunung, danau, hutan yang menghias begitu indahnya HINGGA MENJADI DAERAH WISATA LUAR BIASA INDAHNYA,
ADA JUGA KOPI KINTAMANI, JERUK KINTAMNI, BANTAL KINTAMANI, DENDENG KINTAMANI, MUJAIR KINTAMANI, SAMPAI ANJINGNYA PUN KHAS KINTAMANI, DAN PURA-PURA KAHYANGAN JAGAT YANG BEGITU MENGESANKAN SETA DESA BALI AGA YANG BEGITU MEMBANGGAKAN

tapi kali ini, KITA AKAN MEMBICARAKAN salah satu fondasi ekonomi di KINTAMANI INI adalah pertanian.

Anda akan melihat petani yang mungkin karakternya karakter dunia,..

Bagaimana tidak? Lereng gunung, tepi hutan, diatas batu larva, sungai kering semua mampu digarap petani kintamani.

Komoditinya hampir semua ada…

cabe, bawang, labu siam, kopi, kentang, kol, tomat, JERUK, BROKOLI, MARKISA, dan lainnya semua ada di Kintamani.

Hanya saja seminggu ini sudah beberapa kali saya mendengar keluhan-keluhan para petani yang mampir ke pondok saya.

Pengiriman komoditi ke Jawa sudah hampir 50 % berkurang,
harga-harga komoditi juga sudah berkurang bahkan tidak menutupi operasional produksi di daerah pertanian,
buruh-buruh pertanian juga mulai mengeluh karena sulitnya mendapat pekerjaan, Artinya lahan sudah tidak digarap lagi,..

Belum lagi menghadapi risiko kemarau panjang,
harga obat-obatan pertanian yang semakin mahal,
belum lagi kebijakan wajib rapid test keluar daerah sebelumnya telah membengkakkan biaya produksi.

Apakah ada survei PEMERINTAH YANG MENSURVEI kalau sebagian besar petani saat ini sedang merugi ?

Dan apakah sudah ada antisipasi yang dilakukan oleh pemerintah?

Nyatanya justru yang terjadi adalah meningkatnya pajak di tiap Kabupaten sampai 200%, YANG SECARA LANGSUNG justru semakin mencekik pertanian.

Para sahabat mampukah kita membayangkan akibat dari hancurnya pertanian?

Menurut sahabat, siapa yang akan memberi makan orang kota kecuali dari hasil pertanian para petani yang menjerit ini?

Dari pada rugi terus-menerus, akhirnya petani hanya akan memenuhi kebutuhan primernya saja tanpa mau berproduksi berlebih, sehingga suplay untuk orang-orang yang hidup di kota pasti akan berkurang.

Pada saat seperti itu, apakah teori-teori ekonomi akan berlaku dimana permintaan akan membesar dan harga semakin meningkat?

belum tentu kawan, karena bagaimana orang kota membeli sayuran hasil pertanian di orang desa JIKA ORANG KOTA JUGA TIDAK MEMILIKI UANG KARENA TIDAK ADA PEKERJAAN?
KITA HARUS JUJUR MELIHAT BAHWA uang sudah SEDIKIT YANG beredar, EKONOMI DI KOTA SUDAH SEMAKIN SULIT

Anjloknya harga ini bukan karena melimpahnya barang, atau masyarakat tidak perlu komoditi pertanian, yang ada adalah sudah rendahnya daya beli masyarakat, ditambah pabrik-pabrik tutup dan tidak beroperasi. Apalagi hotel dan restoran juga tutup karena tidak ada customernya.

Jadi ini sebenarnya adalah masalah perut sebuah kebutuhan primer yang harus difasilitasi oleh pemerintah.

Caranya secara hukum adalah :

hentikan membuat peraturan-peraturan yang menekan masyarakat bawah,

pemerintah harus merubah diri menjadi agen marketing dengan cara memfilter komoditi-komoditi yang berlebih kemudian buat perjanjian dengan daerah lain untuk ditukar kepada daerah-daerah yang memerlukan komoditi tersebut.

Begitu pula mencari komoditi yang dibutuhkan dalam suatu daerah harus dicari diiluar daerah yang diperlukan komoditi itu.

Dalam bidang pertanian dalam situasi luar biasa tidak normal begini, ketika tidak ada uang, maka lebih efektif barter atau tukar menukar barang daripada mengandalkan uang atau jual beli.

Saya yakin pemerintah dapat melakukan hal ini.

beri diskon khusus terhadap pertanian dalam hal perpajakan, Bila perlu untuk tanah sawah diberikan secara gratis tanpa dikenai pajak,

beli produk-produk pertanian secara langsung kepada masyarakat kemudian dipasarkan melalui pasar-pasar murah yang dibentuk di kantong-kantong tiap Banjar atau dusun.
DISTRIBUSIKAN MELALUI BADAN USAHA MILIK DESA YANG SUDAH ADA DI TIAP DESA.
mulai mensubsidi kegiatan hidroponik atau menanam sayur-sayuran di pekarangan rumah.

Latih warga di kota menjadi petani modern di seluruh daerah. Ajari masyarakat untuk lebih seperti petani dengan memanfaatkan ruang sempit yang ada di pekarangan rumah agar kebutuhan pokok tentang sayuran dan daging terpenuhi.

Hentikan pungutan-pungutan yang selama ini berlaku kepada petani

Mempermudah perizinan pertanian atau agribisnis atau agro wisata atau semua sektor yang menyangkut pertanian.

Bantu dan fasilitasi penemuan-penemuan sumber mata air baru yang berguna untuk pertanian.

langkah-langkah ini menjadi sangat penting sesegera mungkin dilakukan sebab apabila terlambat 6 bulan LAGI maka jangankan resesi ekonomi, makan saja masyarakat akan semakin susah.
saya khawatir, sangat -sangat khawatir.
Karena ini sudah masalah perut.
Bisa terjadi chaos karena kebutuhan perut sebagai kebutuhan utama tidak mampu untuk dipenuhi oleh pemerintah dan negara.

Ayolah kita pasang telinga kita untuk mendengar petani yang menjerit…. NYALAKAN TANDA TANGGAP DARURAT PERTANIAN, TEMUKAN SOLUSI lalu jalankan !!!.

“Tertikamnya Pariwisata Kintamani Dengan Karcis”

Ini Tentang Kintamani….
Seorang pedagang nasi goreng dan lalapan di sekitar danau Batur bercerita kalau dagangannya sepi, tamu berkurang datang ke Kintamani dalam beberapa hari ini.
Saya penasaran kenapa dan apa keluhannya sebenarnya.
Iapun memperlihatkan sebuah video viral adanya pungutan bagi orang yang akan masuk ke Kintamani untuk membayar karcis Rp.25.000.
Akun Global Bali memperlihatkan ada sekumpulan orang dimintai karcis ke kintamani, padahal orang itu sudah mengaku hanya lewat saja juga dikenai karcis. Bahkan ada terdengar kalau ia juga dari Bangli tetap dikenakan karcis juga.

Para sahabat….
Saya kemudian mulai bertanya ke beberapa tempat dan sahabat, mulai juga mendengar keluhan-keluhan tentang pungutan yang dikenakan kepada orang luar,

walaupun tujuannya hanya sekedar duduk-duduk di tepi jalan menonton indahnya kaldera Kintamani.

Masalah pungutan sebenarnya masalah yang terus saja berulang tanpa ada ada penyelesaian. Belum lagi sejak dahulu Kintamani dikenal dengan pungutan-pungutan liar yang dilakukan oleh oknum-oknum masyarakatnya, ada pula pedagang-pedagang yang memaksa dagangannya harus dibeli, serta kenaikan pungutan resmi pemerintah yang memberatkan para pelaku pariwisata yang datang ke Kintamani.

Beberapa kali Kintamani ingin bangkit, pada saat itulah pungutan-pungutan seolah menikamnya kembali dan memasung pariwisata Kintamani.

Namun kali ini situasinya agak berbeda, dalam situasi covid-19 ini dimana pada daerah yang lain pariwisata mati suri, di Kintamani ramai dan menggeliat.
Orang-orang piknik datang ke Kintamani hanya sekedar ngopi, Sabtu dan Minggu atau masa-masa liburan tempat camping dan swaselfie mulai ramai dan penuh. Anak-anak muda, kelompok bermotor, kelompok spiritual, kumpulan keluarga, semua berbondong-bondong ke Kintamani untuk refreshing. Yang pada akhirnya ramai lah pula dagang lalapan, dagang bubur, dagang mujair nyat-nyat, dagang warung kopi, penjual buah jeruk, dan pedagang-pedagang kecil lain yang ikut menikmati ramainya pengunjung ke Kintamani.

Anda akan melihat banyak swaselfie yang terbangun di Kintamani, tempat-tempat camping juga mulai bermunculan, coffee shop bahkan paling terkenal enaknya di Kintamani, villa-villa juga mulai bertaburan di Kintamani, hal itu justru telah menumbuhkan perekonomian di Kintamani karena nikmatnya dan nyamannya berwisata di Kintamani berhasil menghidupkan warung-warung di tepi jalan, dan para pedagang asongan.

Seiring dengan adanya pungutan dari Pemerintah Daerah Kabupaten Bangli dengan gaya karcis Rp.25.000 per orang, ternyata nikmat dan kenyamanan berwisata di Kintamani itu menjadi berkurang.

Bahkan informasinya, pos pungutan akan ditambah lagi, di pintu masuk ke arah Pura Penulisan dan tempat lainnya yang mulai ramai.

Orang-orang mulai berpikir khawatir untuk datang ke Kintamani dan secara fakta terbukti dari beberapa minggu belakangan ini daerah wisata di Kintamani mulai kembali menyepi karena mahal yang dirasakannya.

Akhirnya masyarakat yang sebelumnya menikmati hasil keramaian itu mulai merasakan kelesuan ekonomi. Maka adalah wajar ketika masyarakat juga mulai mengeluh tentang iuran-iuran yang dirasa aneh bagi mereka yang menyebabkan perekonomian mereka menjadi turun.

Maka yang terjadi adalah Pemerintah Kabupaten Bangli, justru seolah menikam pariwisata Kintamani, dengan yang namanya KARCIS.. secarik kertas yang membuktikan anda telah dipunguti uang.

Sebenarnya pungutan itu ukuran apa dan bagaimana?

Pemerintah Daerah selalu saja beralasan bahwa kaldera gunung Batur adalah kawasan yang harus di jaga dirawat dan dilestarikan.

Pandangan ini juga dirasakan masuk akal karena para pelancong ke Kintamani sering sekali membuang sampah sembarangan, melakukan vandalisme dengan mencoret-coret batu larva yang ada, atau seenaknya nya tidak menghormati status geopark Kintamani yang disematkan oleh UNESCO.

Selama ini mungkin Pemkab Bangli merasa sendirian dalam menjaga, kesadaran masyarakat yang kurang akan menghilangkan perjuangan selama ini dalam memperoleh Status GEOPARK dari UNESCO, artinya UNESCO bisa saja mencabut status itu jika masyarakat tidak berperan serta dalam menjaganya, sehingga jalan diambil Pembab Bangli adalah harus membentuk tim pengelola untuk menangani masalah-masalah tersebut.

Bukannya berhasil membuat masyarakat lebih sadar, justru keluarannya adalah pungutan-pungutan bagi yang masuk ke Kintamani.

Saya memandang pungutan itu memang hal yang wajar dalam memproduksi pendapatan.Sebab bagaimanapun juga para penikmat pariwisata harus membayar kenikmatan yang diperoleh.

Tapi harus tepat dan bijak….

Sayangnya Pemkab Bangli entah melalui badan pengelolanya, justru yang disasar adalah masyarakat umum yang sebenarnya bukan penikmat laba dari pariwisata.

Subyek yang dipungut adalah pihak yang memanfaatkan haknya sebagai warga negara untuk menikmati anugerah alam yang tidak pernah dibuat oleh siapapun termasuk Pemkab Bangli.
Seharusnya, kesadaran penting bagi semua bahwa gunung-gunung, danau, hamparan kaldera itu sudah ada jauh sebelum Pemkab Bangli itu ada,
sebelum masyarakat saat ini ada dan itu juga bersifat purba.
Maka harus dijaga bersama, dilestarikan bersama dan dinikmati bersama.

Sehingga apa sebenarnya yang bisa dipungut?.

Yang seharusnya dipungut adalah usaha pemanfaatannya,

yang dilakukan oleh pelaku usaha maupun penyelenggara kegiatan yang memanfaatkan nama Kintamani dan alamnya, serta budayanya.

Pemkab Bangli dapat menegaskan kembali hak dan kewajiban pelaku usaha, dan memberikan kepastian hukum kepada penunggak-penunggak pajak atau penyelewengan-penyelewengan pajak dari usaha pariwisata yang ada di Kintamani.

Pemkab Bangli dapat meminta retribusi melalui pelaku-pelaku usaha yang ada tentunya dengan membuat dasar hukum terlebih dahulu berupa peraturan daerah dengan penuh kebijaksanaan.

Jadi bukan justru masyarakat umumnya yang dimintai pungutan.

Sebab kalau cara pungutan sekarang ini, bisakah kita bayangkan, setelah ditikam dengan karcis,.. darah pariwisata kintamani akan menjadi lesu, dan pariwisata kintamani bisa menjadi mati (SURI)…

bagaimana jika perlakuan di kintamani oleh Pemkab Bangli ini, diperlakukan khusus untuk orang-orang Bangli di luar Bangli.

Bagaimana jika orang Bangli hanya gara-gara pungutan di Kintamani, dipungut biaya nantinya ketika mereka menikmati alam di Sangeh, alas Kedaton, Uluwatu, den carik, Bunut bolong dan lainnya.

Hal ini bisa terjadi kan???
di mana selama ini, mereka memberikan gratis kepada seluruh lapisan masyarakat namun ketika hanya menonton alam di kintamani atau sampai di Bangli menikmati alam harus membayar karcis sedemikian rupa, padahal sekedar lewat saja.

Kita harus hati-hati, dalam situasi begini, kita harus bersyukur ada tamu yang datang walaupun itu lokal, menolong orang dengan menyediakan tempat berlibur lebih penting daripada uang yang membuat orang yang ingin berrefresing justru semakin pening karena pungutan yang mengerutkan kening.

Ayolah.. kita gunakan kewenangan dengan bijak, tepat sasaran dan bermain cantik.

Dengan senyum dan kebanggaan, menyambut para penikmat alam, dengan pelayanan yang terbaik, makanan yang terbaik, keramahan yang terbaik dan persahabatan yang terbaik..

Karena kita bersama dengan dunia, kintamani pasti berjaya…,